Senin, 19 Januari 2009

BERKOMUNIKASI DENGAN HATI NURANI

( COMMUNICATION BY HEART)

Oleh :

Akh. Muwafik Saleh, S.Sos, M.Si.*

Pernahkah kita evaluasi tentang bagaimana cara kita berkomunikasi dengan orang lain selama ini?, apakah kita pergunakan perasaan saat berkomunikasi dengan orang lain, misalkan saat anda menulis kalimat SMS pada rekan atau kolega anda. Apakah telah anda rasakan terlebih dahulu kalimat yang anda tulis tersebut? Nyamankah atau tidak saat dibaca oleh orang lain? Menyinggung perasaan dia atau tidak?. Begitu pula saat anda berkomunikasi, pernahkah anda rasakan setiap kalimat yang anda ucapkan, sikap-sikap yang anda tampilkan. Apakah semua itu nyaman bagi orang lain atau tidak?.

Persoalannya kenapa kita harus hidupkan hati dalam berkomunikasi ?. Terdapat beberapa alasan mengapa hati perlu kita hidupkan dalam berkomunikasi dengan orang lain, yaitu : pertama, bahwa setiap orang tidak hanya memiliki akal rasionalitas tapi juga hati yang berfungsi utuk merasakan dan menimbang sesuatu. Sehingga seiap kata atau sikap tidak hanya tangkap oleh akal namun juga akan diolah oleh rasa. Apakah kata-kata itu nyaman atau tidak. Sebagaimana mungkin suatu ketika rekan anda sedang menyembunyikan sesuatu ataupun berbohong pada anda, lantas anda merasakan ada sesuatu yang tidak beres dari apa yang dia katakan. Pertanyaannya, apakah pada saat anda mencurigai dia sedang menyembunyikan sesuatu dari ucapannya tersebut yang anda pergunakan untuk menilai adalah kemampuan akal rasionalitas anda semata? atau bahkan perasaan anda?. Tentu yang kedualah yang anda pergunakan, bukan?. Kedua, kata-kata adalah cerminan isi hati seseorang. Ibarat hati sebuah gelas, maka kata-kata dan tindakan adalah tumpahan atas air yang dituangkan pada gelas tersebut. Untuk itu sesungguhnya kata-kata atau sikap adalah informasi tentang diri anda, tentang siapa anda dan bagaimana karakter anda. Sebuah pesan akan membangun citra diri anda. Ketiga, sebagaimana dalam prinsip komunikasi bahwa setiap tindak komunikasi kita berpotensi komunikasi dan setiap orang berpeluang untuk menginterpretasi setiap pesan yang kita produksi dan kita komunikasikan.

Bagaimana menghidupkan hati dalam berkomunikasi? Beberapa hal yang dapat kita lakukan adalah dengan membangun kepekaan atau sensitifitas diri kita terhadap sikap-sikap orang lain. Dengan mencermati bahasa tubuh orang lain saat mereka berinteraksi dengan kita. Apakah mereka antusias dan perhatian saat berinterkasi dengan ita atau bahkan sebaliknya kurang nyaman dan defensif?. Sikap-sikap bahasa tubuh tersebut menjelaskan tentang apa yang sedang terjadi dalam pikiran mereka saat berkomunikasi dengan anda atau orang lain. Karena bahasa tubuh adalah sebagai penjelas dan peneguh atas pesan-pesan verbal yang diproduksi oleh seseorang. Kemudian perlihatkan kepedulian anda terhadap orang lain pada hal-hal sekecil apapun yang dilakukannya. Misalkan pada saat dia sedang butuh sesuatu, maka tanyakan dan penuhilah kebutuhanya tanpa harus dia memintanya. Karena dengan hal seperti ini anda akan dapat mempengaruhi orang lain berdasarkan kebutuhan mereka. Selanjutnya Optimalkan indera anda dalam mengamati sikap dan tindakan komunikasi orang lain. Dengarkan dengan penuh antusias setiap perkataan mereka, jadilah pendengar yang baik. Mendengar secara aktif dan penuh perhatian. Lihat dan cermati dengan teliti sikap dan bahasa tubuh mereka tentang apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan. Rasakan perasaan mereka dengan penuh empati. Bantu kebutuhan mereka tanpa harus terlebih dahulu mereka mengungkapkannya. Dan mulailah dari diri anda untuk memulainya dan lakukan mulai dari al-al yang kecil maupun yang anda anggap sepele.

WUJUD KOMUNIKASI DENGAN HATI (COMMUNICATION BY HEART)

1. Bersedia mendengarkan

Berkomunikasi dengan menggunakan hati membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan orang lain dengan lebih baik. Kemampuan mendengarkan adalah kemampuan pertama yang harusnya dimiliki oleh setiap orang sebelum mereka menjadi pembicara yang handal. Karena tidak sedikit orang pandai berbicara namun memiliki kemampuan yang rendah dalam mendengarkan dan hal ini akan mengakibatkan pada tingkat simpati yang diberikan orang lain terhadap dirinya menjadi lemah. Terdapat beberapa manfaat bagi anda apabila mau mendengarkan orang lain, yaitu antara lain :

Menjauhkan anda dari kesukaran.

· Memberitahukan kepada anda apa yang sedang terjadi.

· Membuat diri anda lebih kompeten

· Membuat diri anda tampak cerdas

· Meningkatkan keampuhan anda

· Membantu anda memahami orang lain

· Memenangkan perhargaan

· Negosiasi bagi anda

· Mengurangi rasa marah pada orang lain

· Membangun pengakuan dalam diri orang lain

· Mengantarkan cinta dalam hidup anda

Untuk menjadi pendengar yang baik tentu anda perlu melatihkannya. Karena mendengar membutuhkan kesabaran ekstra. Sabar untuk menahan keinginan untuk mengungkapkan sesuatu, karena pada prinsipnya manusia memiliki sifat dasar ingin selalu berbicara. Misalya disaat rekan anda menceritakan tentang peristiwa tabrakan yang dilihatnya tadi malam, tentu seketika pula anda ingin menceritakan persoalan serupa yang mungkin anda pernah mengetahuinya.

Hal yang dapat dilakukan oleh anda untuk melatihkan kemampuan mendengar adalah sebagai berikut :

· Diam, karena anda anda tidak mungkin bisa mendengarkan perbincangan orang lain dengan baik jika anda turut berbicara.

· Sadarilah bahwa mendengarkan adalah sesuatu yang anda lakukan demi sukses pribadi

· Bersedia mendengarkan lebih baik

· Mengurangi rasa mementingkan diri sendiri

· Siaplah untuk mendengarkan

· Berikan konsentrasi lebih besar kepada pembicara

· Amati isyarat non verbal

· Tahan nafsu anda untuk mengungkapkan

· Jangan rencanakan tanggapan anda ketika orang sedang bicara

· Berusahalah pahami perasaan pembicara

· Tatap wajahnya dan Berikan anggukan kepala anda dengan meyakinkan

· Hadapkan seluruh tubuh anda pada pembicara

2. Memberi kesempatan orang lain untuk berbicara

Berilah kesempatan kepada orang lain untuk mengungkapkan ide, pikiran dan maksud-maksudnya tanpa harus anda potong perbincangan. Dengan begitu akan memudahkan anda mengetahui lebih banyak apa yang diinginkan oleh orang lain dan memudahkan bagi anda untuk memenuhinya pula.

3. Bersikap antusias dengan lawan bicara

Antusiasme adalah penghargaan yang anda berikan pada orang lain. Antusiasme adalah virus yang anda tularkan agar orang lain pun bersikap antusias saat berinteraksi dengan anda. Sikap antusiasme adalah sikap penuh gairah, gembira,semangat yang menyala-nyala, berapi-api yang muncul dalam diri secara internal. Sikap antusiasme anda akan menjelaskan tentang bagaimana anda menghargai hidup anda dan menghargai orang lain serta membuat orang lain merasa diperhatikan dan dihargai. Salah satu bentuk sikap antusiasme saat berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain misalnya, mengarahkan posisi tubuh pada lawan bicara saat berbicara, mengembangkan senyuman tulus dengan bibir simetris dan terus mempertahankannya selama berkomunikasi, melakukan kontak mata langsung penuh perhatian serta menganggukkan kepala tanda persetujuan dan perhatian, memberikan ungkapkan “ya” tanda keseriusan serta memelihara kekaguman anak-anak dalam diri anda saat berinterkasi dengan orang lain.

4. Tampilkan wajah bersahabat. Wajah bersahabat tampak dari senyuman anda dengan setiap orang. Dalam hadist nabi menyebutkan dengan istilah wajah yang berseri-seri sebagai bagian dari shadaqah yang dapat anda berikan pada setiap orang.

5. Jadikan diri anda aman & nyaman bagi orang lain.hal ini bisa anda amati dan rasakan dari setiap pesan yang anda produksi dan disampaikan pada orang lain saat berinteraksi.

6. Pilih & rasakan setiap kata yang diucapkan. Memilih kata-kata dan sikap adalah langkah awal sebelum anda berkomunikasi. Pemilihan kata dan sikap perlu disesuaikan dengan tema dan karakter pada masing-masing orang. Karena terdapat orang yang sangat peka dengan kata-kata ada pula yang tidak. Misalnya pada saat anda bergurau dengan orang lain, terkadang ada orang yang menanggapi dan menginterpretasi dengan cara berbeda seperti yang anda maksudkan. Untuk itu pengenalan terhadap karakter kepribadian lawan bicara anda menjadi informasi penting dalam persoalan ini.

7. Bicara yang penting dan bermanfaat. Nilai efektifitas komunikasi yang kita lakukan tidaklah semata dilihat pada sejauh mana pesan yang disampaikan dapat dipahami dan mempengaruhi orang lain, melainkan juga pada tingkat kualitas dari pesan yang anda sampaikan, apakah mampu memberikan manfaat bagi orang lain atau tidak sama sekali. Informasi yang anda sampaikan penting atau tidak, atau hanya sekedar basa-basi, lebih-lebih bicara yang penuh dengan kebohongan dan kejelekan yang berdampak negatif bagi orang lain. Tentunya tema perbincangan yang terakhir harus kita jauhi karena tidak memberikan manfaat sedikitpun pada diri kita dan orang lain. Serta dapat merendahkan kredebilitas kita sebagai pembicara (etos komunikator).

8. Tema perbincangan mampu menjadi ilmu dan dzikir bagi orang lain. Inilah mungkin yang perlu lebih banyak kita produksi saat kita berkomunikasi dengan orang lain, sehingga mampu menjadikan kita sebagai sumber informasi yang terpercaya dan membuat orang lain mendapatkan banyak kemanfaatan dari diri kita. Sehingga lebih dibutuhkan oleh orang lain.

9. Tulus dalam setiap ucapan dan tidak berpura-pua, diungkapkan secara jujur, keluar dari hati, serta menjauhkan dari kepentingan-kepentingan tersembunyi (hidden interest) dalam berinteraksi dengan orang lain. Karena keberpura-puraan dalam berkomunikasi akan dengan mudah ditangkap oleh orang lain melalui bahasa tubuh yang kita tampilkan. Untuk itu hal yang harus ditinggalkan oleh diri kita saat berkomunikasi dengan orang lain hádala sikap-sikap negatif sebagaimana berikut : Bicara yang sia-sia (termasuk guyonan yang berlebihan), Bicara yang engandug unsur dusta dan kebohongan, suka menyebarkan gosip, aib dan fitnah, informasi yang bertujuan untuk mengadu domba orang lain, menjelekkan dan merendahkan orang lain, Berlebihan dalam bicara (hiperbolis) serta Overdiscloser.

* Dosen Ilmu Komunikasi Facultas Ilmu Social Universitas Brawijaya. Pimpinan Lembaga Pelatihan INSAN DINAMI INDONESIA, bergerak dalam pelatihan Komunikasi, Kepemimpinan, Motivasi & Pengembangan Diri. Penulis buku : Spiritual Worker, Bekerja dengan Hati Nurani.

Melayani dengan hati nurani


MELAYANI DENGAN HATI NURANI
SPIRITUAL SERVICE EXCELLENT
Oleh : Akh. Muwafik Saleh, S.Sos, M.Si.

Budaya melayani secara prima adalah salah satu wujud dari bersihnya hati. Hati yang selalu siap menerima keberadaan orang lain dan hati yang selalu menggelorakan nilai-nilai kebaikan sehingga selalu mengobsesikan dirinya untuk dapat memberikan yang terbaik dan bermanfaat untuk orang lain dan inilah hakekat dari fitrah, yaitu kecenderungan kuat untuk selalu berbuat kebaikan dan kesucian. Bagi seorang muslim, sekurang-kurangnya mengucapkan “iyyaka na’budu” (hanya kepadaMU kami menyembah/menghamba) sebanyak 17 kali sehari dalam ibadah solatnya, maka setidaknya kalimat ini perlu kita renungkan makna dan implikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Na’budu artinya adalah menyembah ssebagai wujud penghambaan diri. Menghamba berarti menjadi seorang hamba, yaitu selalu memiliki kesadaran dengan penuh keikhlasan untuk melayani, sebagaimana seorang hamba sahaya yang selalu melayani tuannya.
Menarik untuk disimak, pernyataan “iyyaka na’budu” diungkapkan dengan bentuk dhamir (kata ganti) jamak, “Na’budu” (kami menyembah/mengabdi), bukan “a’budu” (aku mengabdi). Ada unsur kebersamaan. Dalam melayani, ego keakuan kita tanggalkan lalu kita gantikan dengan rasa kebersamaan (saling melayani) dan berarti kita sadar bahwa dengan melayani berarti kita telah menjadi lebih bermakna dengan kehidupan. Mampu memberikan kemanfaatan bagi yang lain, sehingga orang lain betul-betul merasakan keberadaan kita yang tidak hanya sekedar ada. Kita sadar bahwa: “Kita ada karena kita melayani, dan siapapun di luar diri kita berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari kita (Customer). Bersedia melayani berarti memberikan yang terbaik bagi orang lain. Pelayanan yang terbaik di saat kita mampu mengetahui apa yang dibutuhkan oleh orang lain dan inilah yang dinamakan empati, yaitu kemampuan untuk menempatkan posisi diri pada apa yang dibutuhkan dan dirasakan oleh orang lain. Empati adalah inti dari pelayanan prima. Sedangkan mendengarkan dan merasakan adalah inti dari pada empati itu sendiri.
Toto Tasmara (1987) mencoba memberikan makna secara kreatif dari kepanjangan SERVICE, yaitu sebagai berikaut:
S (Self Awareness and Self Esteem); menanamkan kesadaran diri bahwa melayani adalah bagian dari citra diri sebagai seorang muslim dalam menjalankan misinya dalam kehidupan. Ia sadar bahwa ia ada karena melayani. Ia mempunyai harga karena mampu memberikan makna bagi kehidupan melalui pelayanannya tersebut. Ia sadar, tidak mungkin seorang dapat melayani tanpa memperhatikan martabat orang lain.
E (Empathy and Enthusiasm); lakukanlah empati dan layanilah dengan penuh antusias. Sikap ini akan membrikan efek batin bagi diri anda dan orang lain yang anda layani.
R (Reform and Recover); Berusaha untuk lebih baik dan lebih baik lagi, dan selalu memperbaiki dengan cepat setiap ada keluhan/sesuatu yang bisa merusak pelayanan anda.
V (Victory and Vision); Melayani berarti ingin merebut hati dan membawa misi untuk membangun kemenangan bersama. Dalam melayani, kita harus memiliki pandangan kedepan untuk melakukan perbaikan dan peningkatan mutu.
I (Inisiatif, Impressive and Improvement); Milikilah inisiatif yang tinggi, memiliki kepekaan untuk mengawali dalam melayani, memberikan pelayanan yang mengesankan dan selalu berusaha untuk meningkatkan perbaikan dalam pelayanan.
C (Carl, Cooperativeness and Communication); Tunjukkan perhatian yang sangat mendalam dan kembangkanlah nilai-nilai yang mampu memberikan kerja sama. Ambillah komitmen sebagai jembatan emas untuk menumbuhkan sinergi dan keterbukaan.
E (Evaluation and Empowerment); Lakukanlah penilaian, perenungan dan upayakanlah selalu untuk memberdayakan seluruh aset yang ada pada diri anda.
Empati sebagai inti pelayanan terbaik (service excellent) haruslah mampu menjadi bagian dari setiap perilaku anda dalam berhubungan dengan orang lain. Oleh karena itu, untuk membangun kemampuan empati kepada orang lain, cobalah anda berempati pada diri anda sendiri dengan menangkap pesan yang ada pada tubuh anda. Berikut tips untuk membangun empati antara lain:
  1. Telinga; Latihlah kemampuan diri anda untuk mendengarkan keinginan dan harapan orang lain, keluhan-keluhan orang lain. Karena sesungguhnya dengan mendengarkan keinginan mereka anda akan lebih banyak mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi (sebagai modal diagnosis awal). Sehingga memudahkan anda menemukan solusinya. Dengan mendengar membuat anda dapat memahami orang lain lebih baik. Sedangkan bagi orang lain, mereka merasa dihargai serta mampu membangun pengakuan dalam diri mereka.
  2. Mata; milikilah kemampuan untuk melihat secara jeli apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh orang lain dan belajarlah dari setiap pengalaman serta terbukalah terhadap masukan karena hal itu memudahkan bagi anda dalam melayani orang lain, lihatlah kelebihan orang lain, berikan perhatian pada orang lain dengan sungguh-sungguh, lalu munculkan padanya kasih sayang pada mereka dan berikan pelayanan dengan penuh cinta.
  3. Hati; rasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhan mereka. Hidupkan hati anda dengan cinta dan keikhlasan dalam memberikan pelayanan kepada orang lain. Dengan berkomitmen bahwa pelayanan yang anda berikan adalah wujud dari keimanan anda yang mendalam serta wujud dari kefitrahan diri anda yang suci dan bersih.
  4. Akal/rasio; hadirkanlah selalu dalam pikiran anda tentang orang lain (customer). Buang jauh-jauh egoisme diri anda dalam memberikan pelayanan kepada orang lain. Sesungguhnya wilayah pengakuan terhadap diri kita sangatlah ditentukan oleh wilayah berfikir anda. Jika anda selalu berfikir tentang diri anda maka hanya andalah yang mengakui diri anda, jika yang selalu anda fikirkan adalah keluarga maka wilayah pengakuan terhadap diri anda adalah sebatas keluarga itu, begitu pula seterusnya. Berfikirlah selalu bagaimana agar diri anda dapat menjadi bagian dari solusi bukan masalah, sehingga keberadaan anda menjadi sangat berarti bagi kehidupan.
  5. Tangan; ulurkan tangan anda untuk memberikan bantuan akan persoalan yang dihadapi oleh orang lain. Biasakanlah diri anda untuk memberi terlebih dahulu perhatian, bantuan dan pelayanan kepada orang lain. Jangan bersikap ingin memperoleh atau mendapatkan sesuatu sebelum anda memberikannya terlebih dahulu.
  6. Kaki; gerakkanlah kaki anda untuk melangkah dalam kehidupan ini guna memberikan contoh teladan yang baik bagi rekan-rekan anda dalam melayani orang lain. Yakinlah diri anda bahwa sikap keteladanan adalah yang paling utama dalam mempengaruhi orang lain. Ingatlah sebuah ungkapan “Action Speak Leader Than Words” (satu perbuatan yang anda lakukan dan anda contohkan jauh lebih bermakna daripada seribu kata-kata yang anda ucapkan). Jadikan keteladanan menjadi bagian terpenting terhadap anda. Biarlah rekan-rekan melihat anda melalui perbuatan anda. Ingatlah selalu ungkapan ini. Berkatalah dengan perbuatan jangan berbuat hanya dengan kata-kata, atau yang sering orang katakan dengan NATO (No Action, Talk Only).
Berkenaan dengan hal-hal di atas Allah berfirman dalam Al Qur’an, Q.S. 17 Al Isra’ 36
“….Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya”.

Sedangkan bagi mereka yang memiliki hati, telinga dan mata namun tidak dipergunakan dan tidak diaktifkan untuk menerima kebenaran dan menyebarkan kebaikan, Allah SWT mengancamkannya dengan firmanNYA :
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, (yaitu) mereka yang memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al A’Raaf 7:179)

Dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi orang lain, cobalah anda berpegang pada beberapa prinsip pelayanan dan empati sebagaimana berikut:
a. Jadikanlah melayani sebagai bagian dari ibadah anda. Setiap perbuatan baik sekecil apapun selama diniatkan untuk mendapatkan ridha dari Allah adalah berbuah pahala dan bernilai ibadah. Melayani merupakan wujud taqwa (tanggung jawab) kita terhadap keimanan kita. Seorang yang beriman akan selalu merasa bahwa dirinya dilihat dan dinilai oleh Allah (sikap ihsan) sehingga terobsesi untuk selalu menampilkan yang terbaik karena Allah hanya menerima yang terbaik saja (ahsanu ‘amalan).
b. Layanilah dengan penuh keikhlasan, melayani tidak atas dasar kepentingan materi duniawi, keinginan untuk dihargai dan dihormati, harapan untuk dapat dinilai oleh orang lain atau pimpinan anda. Tapi sikap melayani hanya semata-mata untuk mendapatkan nilai dari Allah. Karena Allah hanya menilai amaliyahayang dilakukan dengan ikhlas.
c. Dahulukanlah kepentingan orang lain, di atas kepentingan pribadi anda. Karena itulah tanda kesempurnaan keimanan anda dan jadikanlah cinta sebagai prinsip dalam pelayanan anda. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Tidaklah (sempurna) keimanan salah seorang di antara kamu sekalian, sehingga ia mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. (H.R. Bukhari Muslim)

Hal ini berarti anda harus mampu menghargai orang lain sebagaimana diri anda ingin dihargai begitu pula. Anda harus mampu mengerti orang lain terlebih dahulu sebelum anda ingin dimengerti dan bahagiakanlah orang lain terlebih dahulu maka anda akan mendapatkan kebahagiaan melebihi dari apa yang anda harapkan.
d. Yakinkanlah pada diri anda bahwa dengan memberi terlebih dahulu yang terbaik maka anda akan memdapatkan yang terbaik pula atau bahkan lebih baik lagi. Ingatlah prinsip “salam”. Bagaimana mungkin anda akan mendapatkan jawaban doa keselamatan “wa’alaikum salam” (kepadamu keselamatan) kalau anda tidak mengawalinya memberikan/ mengucapkan salam “Assalamu ‘alaikum” terlebih dahulu?
e. Tampilkan sikap dan performan yang simpatik terhadap setiap orang dengan penuh senyum dan wajah penuh ceria, sebagaimana dalam sebuah syair Raihan:
Manis wajahmu kulihat di sana
Apa rahasia yang tersirat
Tapi zahirnya dapat kulihat
Mesra wajahmu dengan senyuman
Senyuman...
Senyum tanda mesra
Senyum tanda sayang
Senyumlah sedekah yang paling mudah
Senyum di waktu susah tanda ketabahan
Senyuman itu tanda keimanan
Senyumlah... ...
Hati yang gundah terasa tenang
Bila melihat senyum diri kan tenang
Tapi senyumlah seikhlas hati
Senyuman dari hati jatuh ke hati

Senyumlah seperti Rasulullah
Senyumnya bersinar dengan cahaya
Senyumlah kita hanya kerana Allah
Itulah senyuman bersedekah

Itulah sedekah paling mudah
Tiada terasa terhutang budi
Ikat persahabatan antara kita
Tapi senyum jangan disalah guna

Senyum... ...
Senyumlah kita

Senyumlah... ...
Senyumlah penawar duka
Senyumlah penyejuk hati

PANDUAN MEMILIH PEMIMPIN

Oleh : Akh. Muwafik Saleh

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu sebagai kekasih-kekasih/pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa diantara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” Q.S At Taubah : 23

Syarat seorang pemimpin, menurut Imam Mawardi “Al ahkam ash shulthaniyyah wal wilaayaatu ad diiniyyah”. Mensyaratkan 7 hal :

1. Adil : mampu memposisikan secara benar dirinya dan memposisikan secara benar rakyatnya (umat), artinya jika umatnya beraga islam maka aturan islamlah yang akan dijadikan acuan bagi penyelenggaran dan pengelolaan sosial hukumnya.

2. Berilmu : memiliki kemampuan dalam mengelola negara dan masyarakat, secara cepat dan tepat dalam mengambil kebijakan yang tentunya berpihak pada umat.

3. Sehat : fisik maupun non fisik (lengkap panca indera), secara emosi matang, tidak mudah bersikap provokatif, tenang dalam bersikap dsb.

4. Tidak ada kekurangan pada anggota tubuhnya, sehingga tidak menghalanginya untuk bergerak cepat dan sempurna.

5. Memiliki Visi yang baik, sehingga dapat menciptakan kebijakan yang berpihak pada kepentingan dan kemashlahatan umat.

6. Memiliki keberanian dan sifat menjaga rakyatnya, sehingga mampu menciptakan suasana yang kondusif bagi stabilitas politik dan ekonomi.

7. Ia memiliki nasab dari suku quraisy.

Panduan dalam memilih pemimpin

1. Seorang Laki –laki, berdasar firman Allah :

Q.S.

2. Seorang muslim yang takwa dan taat, hal ini bisa terlihat dari indikator :

  1. perilaku keseharian
  2. ubudiyah
  3. kehidupan keluarganya

3. Dikenal :

  1. personalitinya
  2. visinya
  3. misinya
  4. platformnya

4. Keberpihakannya terhadap umat :

  1. dapat dilihat dati trade record dalam kurun waktu yang panjang tentang keberpihakannya dan kebijakannya selama dia berkuasa / menjabat khususnya keberpihakannya pada umat.
  2. Tidak pernah menyakiti umat
  3. Aspiratif terhadap umat
  4. Logika realitas politik (AS) : siapapun yang dimusuhi AS pasti mereka aspiratif terhadap umat. Bentuk dimusuhi misal : dengan isu-isu HAM, character assasination, penciptaan opini negatif. Sedangkan mereka yang tidak cukup aspiratif terhadap umat tentu akan sangat didukung dalam bentuk : dukungan dana, penciptaan opini positif, akses media dsb.

5. mengutamakan Iman (Agama) daripada kekafiran.

Jumat, 24 Oktober 2008

LEMAHNYA PRODUK LOKAL DI TENGAH GLOBALISASI DAN LIBERALISASI EKONOMI

Oleh : Akh. Muwafik Saleh, S.Sos, M.Si

1. LATAR BELAKANG

Proses industrialisasi telah diusung oleh banyak negara baik maju maupun berkembang untuk memajukan bidang perekonomian mereka. Keadaan ini dipicu oleh adanya momentum revolusi industri yang kemudian menular ke berbagai cakupan wilayah lainnya. Tentu saja hal tersebut sesuai dengan tuntutan zaman dimana masyarakat sudah memiliki daya intelektualitas yang tinggi sehingga menyebabkan berbagai aspek kehidupan di dunia juga harus mengimbanginya.

Globalisasi merupakan sebuah tema besar dalam setiap pembahasan yang melibatkan semua pihak baik di tingkat internasional maupun di tingkat yang lebih nasional dan lokal. Selain itu, globalisasi juga merupakan bahasan yang sering diperdebatkan dimana konsep globalisasi bukan merupakan sebuah keadaan yang stagnan dan mutlak adanya. Prosesnya terus berkembang dari waktu ke waktu sehingga pandangan semua pihak terhadap konsep globalisasi yang ditawarkan dapat berbeda satu sama lain.

Banyak pihak yang mengagungkan konsep globalisasi sebagai sebuah proses yang dapat semakin meningkatkan kesejahteraan ekonomi yang tidak pernah dicapai sebelumnya bagi semua kalangan baik negara maupun non-negara. Tidak sedikit pula yang menyakinkan bahwa konsep globalisasi yang diterapkan saat ini merupakan sebuah proses yang justru telah mengakibatkan sebuah keadaan yang lebih buruk ketimbang masa-masa sebelumnya terutama dalam hal kemiskinan, kerusakan lingkungan dan kekerasan.

Globalisasi juga merupakan sebuah kondisi dimana terjadi pemadatan ruang dan waktu, sehingga jarak dan waktu sudah bukan masalah lagi untuk sebuah hubungan. Kemajuan teknologi dalam bidang komunikasi, transportasi dan informasi telah membawa perubahan begitu radikal dalam setiap segi kehidupan manusia. Salah satu dampaknya adalah timbulnya sebuah kesadaran bahwa manusia tidak tinggal sendirian dan bukanlah sebuah hal yang bijak untuk bertindak menurut ketentuan sendiri.

Akibatnya banyak bermunculan kelompok kerjasama baik bilateral, multilateral, regional maupun internasional seperti munculnya International Governmental Organizations (IGO’s) seperti United Nations, OIC (Organization of Islamic Countries), maupun Non-Aligned Movement. Selain itu, kelompok civil society dalam hal ini tidak mau ketinggalan, mereka banyak mendirikan NGO (Non-Governmental Organizations) yang bergeral di banyak bidang mulai dari sosial, politik, lingkungan, gender, ekonomi, budaya dan masih banyak lagi.

Adanya akses perdagangan bebas melalui kelompok kerjasama tersebut, serta peningkatan volume perdagangan merupakan dampak globalisasi, terutama kaitannya dengan sistem ekonomi liberal. Keadaan ini memungkinkan adanya proses kompetisi antara para produsen guna memasarkan produknya ke seluruh dunia.

Kompetisi para produsen tersebut tidak hanya di kalangan pedagang dunia melainkan juga antar pedagang domestik yang saling bersaing di antaranya ataupun dengan pedagang internasional. Para pedagang domestik tersebut berusaha menarik konsumen yang sepertinya sudah mulai suka bahkan fanatik dengan ”kelebihan” yang disuguhkan oleh produk-produk yang mendunia.

Keberadaan pedagang atau pengusaha lokal agaknya membawa iklim perekonomian yang agak menyejukkan disamping untuk menambah devisa yang semakin berkurang akibat pemborosan pembayaran importir, mereka mampu menyelipkan nilai-nilai kebudayaan yang setidaknya mampu menumbuhkan rasa kecintaan akan produk bahkan bangsa itu sendiri.

2. GLOBALISASI DAN PASAR BEBAS

Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias. Kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekadar definisi kerja sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.

Proses globalisasi yang baru terjadi selama 10 tahun terakhir ini telah mengubah dunia secara total dan radikal. Walaupun begitu, benar globalisasi telah terjadi pada masa lampau, tetapi globalisasi yang sekarang tidak bisa dibandingkan dengan yang masa lampau. Tiga faktor yang membedakan: velocity, intensity, dan extensity.

Oleh karena tiga faktor ini maka globalisasi menimbulkan dampak yang jauh lebih dahsyat daripada masa sebelumnya. Tetapi, ini tidak berarti bahwa globalisasi telah melabrak segala sesuatu sampai lumat sehingga tidak menyisakan kebudayaan lokal dan negara-bangsa sama sekali. Hal ini berupa proses transformasi, bukan pengurangan atau penghilangan.

Globalisasi ditandai dengan masuknya hal-hal tertentu yang tentu saja membonceng sebuah kepentingan entah itu dalam hal nilai-nilai, ideologi, kekuasaan ataupun ekonomi. Salah satu yang tidak tampak boncengan kepentingannya dalam era globalisasi adalah dalam bentuk produk, dimana produk-produk tersebut bisa masuk dengan leluasa antar negara karena adanya sistem perekonomian yang bebas.

Pada era globalisasi perdagangan tidak lagi mengenal batas suatu negara, sehingga akan terjadi persaingan yang semakin tajam antara produk dalam negeri dan produk luar negeri. Globalisasi sebagai tantangan zaman menuntut adanya pasar bebas yang sebebas-bebasnya. Kebebasan tersebut seakan menghapus jarak teritorial antar negara. Teknologi informasi memberikan sumbangsih cukup besar terhadap arus global yang tak hanya berpengaruh terhadap dunia perekonomian saja, tetapi akan berpengaruh pada kepentingan politik dalam negeri. Misalnya tentang pengambilan kebijakan pemerintah. Kebijakan tersebut diantaranya: Perpres no. 36 tahun 2004 tentang kepemilikan hak tanah, UU nomor 32 tentang ketenaga kerjaan dan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). Dan baru-baru ini ramai juga dibicarakan tentang rencana kebijakan pemerintah yang berkenaan tentang penanaman modal asing.

Pasar bebas memungkinkan perusahaan-perusahaan level internasional untuk memasarkan produknya ke berbagai negara. Termasuk pada negara-negara berkembang seperti Indonesia. Produk impor yang dipasarkan dapat beredar secara bebas ke seluruh pelosok negeri. Keberadaan produk impor telah menggeser hasil produksi dalam negeri. Padahal industri lokal pada dasarnya mampu membuat barang yang kualitasnya tidak kalah dengan perusahaan asing. Namun ternyata realita mengatakan masyarakat ternyata lebih mementingkan gengsi. Implementasi gengsi tersebut mungkin dilakukan dengan mengkonsumsi produk impor.

Globalisasi dan pasar bebas memang tak dapat dicegah. Namun akibatnya, semakin banyak produk impor yang masuk ke Indonesia. Gencarnya produk-produk impor yang menyerbu Indonesia membuat cukup membuat khawatir banyak pihak. Padahal, Indonesia harus mampu menciptakan infrastruktur yang memadai guna mengantisipasi serbuan produk-produk impor demi menjaga ketahanan ekonomi nasional.

2.1. Produk Impor dan Konsumtivisme

Gejala globalisasi yang pada saat ini sungguh tidak terelakkan. Televisi dan koran membawa berita-berita dari segala sudut dunia ke meja; bukan hanya berita perang, tapi juga berita olahraga, fashion, musik, dan sebagainya. Orang kini bisa marah, sedih, dan gembira terhadap peristiwa-peristiwa yang tidak ia lihat dengan mata kepala sendiri.

Sementara itu, produk-produk yang tidak bisa dibuat di tanah air, memenuhi rak-rak toko dan etalase. Mereka didatangkan dari segala penjuru dunia, dari minuman, sepatu, makanan, baju, celana, hingga mobil mewah. Produk-produk tersebut, menurut James W. Carey, tercipta atas dasar kebudayaan berdasarkan proses komunikasi sosial yang terwujud melalui produk sosial kehidupan, seperti mitos, mode, makanan, bahasa dan sebagainya. Fenomena yang terjadi saat ini adalah sebagian dari masyarakat Indonesia cenderung semakin menyukai produk-produk sosial tersebut, produk impor. Alasan masyarakat memilih produk impor selain karena alasan mutu, juga karena alasan desain dan harga jual yang sangat kompetitif.

Saat ini banyak produk impor yang beredar di pasar dalam negeri, mulai menggeser produk yang sama yang berasal dari industri lokal. Derasnya arus barang impor tersebut bukan hanya merupakan dampak pasar bebas, akan tetapi juga karena dipengaruhi oleh mental konsumen yang masih berbudaya ”import minded” yang perlu segera dicari jalan keluarnya. Masuknya produk-produk impor tidak hanya dapat ditemui di mall-mall saja, bahkan trade center sampai pasar-pasar tradisional pun, produk impor misalnya dari Tiongkok, banyak memenuhi rak-rak para pedagang. Lebih hebat lagi, para pedagangnya pun ada yang langsung berasal dari Tiongkok. Hanya bisa satu-dua kata bahasa Indonesia, para pedagang dari Tiongkok itu lebih mengandalkan kalkulator untuk memberi tahu harga barang dagangannya.

Di pusat perbelanjaan, produk asal Amerika dan Eropa, juga memenuhi hampir seluruh area perdagangan yang ada. Mulai dari produk kosmetika, busana dan aksesorinya, tas, sepatu, bahkan sampai produk-produk perawatan kesehatan, seperti Gucci, Louis Vuitton, Armani, Prada, Dunhill, Zegna, Ferragamo, Tiffany & Co, Tuleh, Mulberry, Issey Miyake, Kate Spade, Escada, Cartier, Fendi, Chanel, Diesel, Chloe, Hermes, Coach, Polo, Ralph Lauren, dan masih banyak lagi nama asing. Begitu pula dengan berbagai makanan dan minuman seperti Starbucks, McDonald’s, BreadTalk dan sebagainya.

Saat ini banyak produk impor yang beredar di pasar dalam negeri, mulai menggeser produk yang sama yang berasal dari industri lokal. Derasnya arus barang impor tersebut bukan hanya merupakan dampak pasar bebas, akan tetapi juga karena dipengaruhi oleh mental konsumen yang masih berbudaya ”import minded”.

Mental konsumen seperti inilah yang mengakibatkan munculnya budaya baru dimana tingkat konsumen untuk mengkonsumsi produk tertentu semakin tinggi, konsumtif. Fenomena seperti ini tidaklah mengherankan, terutama dengan menjamurnya gerai-gerai fashion karya desainer internasional dan juga berbagai jaringan ritel asing yang tumbuh subur berbarengan dengan bermunculannya pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota besar di Indonesia.

Fenomena remaja yang sudah melek merek hanya salah satu contoh gaya hidup konsumtif yang menghinggapi masyarakat kita, seperti juga merayakan ulang tahun di hotel berbintang, menikmati segelas cokelat panas di kafe, atau sekadar nongkrong di mall.

Hidup hemat dan menabung tidak lagi dipahami oleh kebanyakan anak muda zaman sekarang. Pemimpin atau tokoh panutan menurunkan budaya konsumtif kepada rakyat atau audiensnya, seperti orangtua menularkan kepada anak-anaknya dengan menghujani mereka dengan barang-barang atau fasilitas mewah lain untuk menebus rasa bersalah karena tak cukup meluangkan waktu untuk anak.

Iklan yang persuasif dan berbagai strategi pemasaran agresif membuat masyarakat semakin dalam terjebak arus konsumtivisme atau kecanduan belanja yang sifatnya impulsif atau emosional, bukan lagi rasional. Konsumtivisme sudah menjadi gaya hidup masyarakat kelas menengah perkotaan di Indonesia yang separuh lebih penduduknya masih miskin (diukur dari standar kemiskinan internasional 2 dollar AS per hari).

Fenomena seperti ini, sebenarnya bukan hanya milik Indonesia, tetapi juga negara-negara lain, termasuk negara yang (sudah) bukan komunis. Konsumtivisme adalah dampak dari globalisasi dan sistem kapitalisme modern yang mendasarkan pada tata nilai materialistis, mulai dari tingkah laku, pola pikir, hingga sikap.

Masyarakat menengah perkotaan di Indonesia, seperti juga di negara Asia lain, bahkan lebih agresif menjiplak gaya hidup konsumtif ketimbang masyarakat di negara asal budaya konsumerisme itu sendiri, Amerika. Contohnya fanatisme pada produk-produk bermerek seperti merk celana jeans Levi’s, baju Polo, tas Gucci serta sepatu olahraga Adidas, dan budaya konsumsi makanan cepat saji dimana yang paling terkenal dengan franchisenya yaitu McDonald’s.

Kalangan peritel menyebut bertumbuhannya mall-mall dengan ikon- ikon konsumerisme Barat di Indonesia sebagai strategi menjemput bola. Sebelum hadirnya mal-mal mewah ini, orang kaya Indonesia harus berburu hingga ke Singapura, Eropa, atau AS untuk mendapatkan barang-barang bermerek dari pusat-pusat mode internasional seperti Paris, London, Italia, dan New York.

Hal serupa juga terjadi untuk produk makanan, kosmetik dan toiletries (keperluan kamar mandi), perlengkapan rumah tangga dan lain-lain, dengan hadirnya jaringan ritel global seperti Carrefour, Giant, dan Wal Mart. Angka penjualan barang-barang bermerek dan juga konsumsi consumer goods (barang kebutuhan sehari-hari) lain terus melonjak dramatis dari tahun ke tahun, tidak peduli apakah perekonomian dalam kondisi sulit atau tidak.

Setiap dua dari 10 konsumen kelas menengah Indonesia yang disurvei AC Nielsen mengatakan, mereka memilih membeli produk karya desainer internasional, kendati 90 persen dari mereka menganggap barang tersebut terlalu mahal dan kualitasnya tidak istimewa. Hal tersebut membuktikan bahwa mereka membeli produk-produk itu lebih untuk status sosialnya di masyarakat.

Gaya hidup yang muncul mengatakan bahwa dengan mengkonsumsi produk-produk buatan luar negri (impor) dapat menaikkan kelas sosial masyarakat. Terlepas dari kualitas, konsumenisasi produk impor menciptakan kelas baru disebut golongan elite. Golongan baru ini melalui identitas barunya, seperti yang diungkapkan Stryker (1996) “ketika posisi sosial telah terinternalisasi, maka kita akan berbicara tentang identitas itu sendiri” maka identitas mereka terinternalisasi dan ditentukan oleh struktur budaya dan sosial yang dibangun melalui interaksi sosial. Mereka merasa lebih percaya diri dengan mengkonsumsi barang yang notabene buatan impor. Produk dalam negeri atau lokal menduduki predikat yang biasa saja di mata mereka.

Kerakusan kelas menengah-atas terhadap barang-barang bermerek menunjukkan gengsi yang melekat pada produk menjadi pertimbangan penting konsumen. Merek busana meningkatkan status sosial bahkan identitas seseorang. Orang dinilai dari apa yang dipakai, dikonsumsi, atau dibeli. Dengan merek, seolah mereka ingin mengatakan, "Inilah saya".

Pada kategori consumer goods, di semester I-2006, menurut AC Nielsen, angka penjualan 51 kategori produk consumer goods meningkat 10 persen dan untuk keseluruhan 2006 naik setidaknya 15 persen. Ini angka tertinggi kedua di antara 15 negara di Asia Pasifik. Keterpurukan ekonomi dan daya beli masyarakat, terutama akibat kenaikan tajam harga bahan bakar minyak pada 2005, tidak memengaruhi konsumsi barang-barang ini.

Indikator konsumsi yang lebih digerakkan oleh gaya hidup ”import minded” ini juga tercermin meningkatnya alokasi belanja konsumen untuk makanan, meningkatnya jumlah mobil, meningkatnya belanja produk consumer electronics (barang elektronik), dan bahkan juga belanja makanan anjing dan kucing. Selain itu, konsumsi minuman ringan, rokok, kosmetik, toiletries dan juga belanja untuk rekreasi. Menurut AC Nielsen, 93 persen konsumen Indonesia termasuk recreational shoppers (pembelanja rekreasi). Mereka berbelanja bukan karena kebutuhan, tetapi lebih untuk kesenangan.

Hasil survei AC Nielsen memang belum mencerminkan gaya hidup masyarakat Indonesia secara keseluruhan, mengingat responden hanya yang di Indonesia jumlahnya tak sampai 8 persen dan umumnya kondisi ekonominya baik, berpendidikan, dan ada di perkotaan.

Political and Economic Risk Consultancy menggambarkan Indonesia sebagai kebalikan total dari Singapura. Meskipun memiliki angka kemiskinan tinggi, konsumsi masyarakat di Indonesia mampu menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi beberapa tahun terakhir.

Ketika tingkat pengangguran begitu tinggi dan kondisi keuangan negara yang kritis, impor barang dari luar negeri malah meningkat sehingga begitu banyak devisa negara yang terkuras dan mengalir ke luar negeri. Barang-barang impor begitu merajai pasar retail dan grosir sehingga barang produksi dalam negeri malah tidak punya tempat di negeri sendiri karena kalah bersaing.

Jika dicermati, bisnis-bisnis yang prospeknya bagus beberapa tahun terakhir di Indonesia adalah juga bisnis yang terkait dengan konsumsi. Selain properti, mal-mal atau pusat perbelanjaan, masuknya investasi asing seperti akuisisi perusahaan rokok HM Sampoerna oleh Philip Morris International juga karena konsumsi terkait gaya hidup. Budaya konsumtif ini mengimplikasikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat tabungan nasional terendah di Asia Pasifik. Akibatnya, industri dalam negeri yang hanya memiliki sedikit modal dan minim kemampuan sumber daya manusia maupun alamnya banyak yang gulung tikar dan menambah jumlah pengangguran.

Sebagai sebuah proses dan perkembangan, globalisasi yang ditawarkan saat ini ternyata memiliki keburukan-keburukan yang tidak kalah besar dan pentingnya dengan peranan yang telah dihasilkan dalam proses globalisasi. Kita dapat saja menilai bahwa globalisasi telah mengangkat tingkat kesejahteraan ekonomi di dunia yang pernah dicapai oleh sistem sebelumnya. Namun, tidak dapat dipungkiri juga bahwa globalisasi telah menyebabkan kemiskinan yang belum pernah dicapai oleh sistem sebelumnya.

Selain itu, saat ini telah terjadi ketimpangan yang sangat signifikan baik dalam level individu, kelompok, maupun negara. Konsep kapitalisme ekonomi, merupakan sebuah sistem yang hanya dapat berjalan di tengah kesengsaraan orang lain. Kompetisi yang merupakan jiwa kebebasan yang diusung oleh kapitalisme tidak disertai penilaian terhadap kadar kemampuan. Mengenai konsep tersebut negara-negara miskin sadar bahwa mereka memiliki kapabilitas dan sumber daya yang terbatas sehingga mereka yakin bahwa produk-produk mereka akan dilumat oleh produk-produk dari negara-negara industri besar jika produk tersebut dibiarkan bebas masuk ke pasar domestik.

Di sisi lain, jika ingin lebih jeli, globalisasi dalam prosesnya juga telah mengakibatkan kerusakan lingkungan yang tidak pernah terbayangkan dan sudah terjadi sebesar ini sebelumnya. Kerusakan hutan, habitat satwa liar dan langka, serta ekosistem yang mendukungnya telah tergerus oleh kepentingan-kepentingan korporasi kapitalis. Ketimpangan global terjadi dalam dua isu ini yakni ekonomi dan lingkungan.

Negara-negara miskin telah dipaksa oleh negara-negara industri besar untuk menandatangani kesepakatan pembukaan pasar bagi produk-produk impor dengan dalih bahwa pembukaan pasar tersebut akan meningkatkan perekonomian negara yang bersangkutan dan tentunya akan meningkatkan kesejahteraan ekonomi rakyatnya. Namun, kenyataan yang terjadi adalah pembukaan pasar hanya akan meningktakan kesejahteraan kelompok-kelompok ekonomi asing dan segelintir kelompok domestik di negara tersebut.

Kelompok lainnya hanya akan termangu melihat setumpuk produk-produk asing yang mengisi mall-mall dan departement store tanpa sanggup membelinya karena daya beli mereka yang rendah. Padahal, negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Eropa yang diwakili oleh Uni Eropa, masih melakukan sebuah tindakan perlindungan terhadap produk-produk lokalnya terutama pertanian yang mereka nilai masih dinilai kurang stabil terhadap intervensi produk-produk asing.

Kekhawatiran lain akan adanya globalisasi yang menyebabkan gejala konsumtivisme ini lebih karena alasan bahwa konsumtivisme yang berlebihan cenderung menghancurkan nilai-nilai luhur budaya lokal, lunturnya identitas bangsa dan kesetiakawanan sosial, hancurnya industri nasional serta hancurnya lingkungan. Kekhawatiran itu beralasan karena konsumtivisme sudah seperti virus ganas, yang tidak saja menghinggapi kaum kaya di perkotaan, tapi juga mereka yang sehari-hari sebenarnya masih berkutat dengan masalah perut.

2.2. Lunturnya Kecintaan Terhadap Produksi Lokal

Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Simon Kemoni, sosiolog asal Kenya mengatakan bahwa globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya dan nilai-nilai budaya. Dalam proses alami ini, setiap bangsa akan berusaha menyesuaikan budaya mereka dengan perkembangan baru sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan dan menghindari kehancuran. Tetapi, menurut Simon Kimoni, dalam proses ini, negara-negara Dunia Ketiga harus memperkokoh dimensi budaya mereka dan memelihara struktur nilai-nilainya agar tidak dieliminasi oleh budaya asing. Dalam rangka ini, berbagai bangsa Dunia Ketiga haruslah mendapatkan informasi ilmiah yang bermanfaat dan menambah pengalaman mereka.

Berbagai hal yang memang bisa didapat dari sebuah kata dan prose globalisasi yang jalurnya bisa melalui berbagai lajur. Alih-alih memberi manfaat bagi masyarakat di negara berkembang, globalisasi justru mempercepat proses penurunan daya saing produk lokal dan pelemahan daya tahan masyarakat untuk mempertahankan produk unggulannya.

Salah satu kendalanya adalah lagi-lagi soal merk, dimana merk-merk yang dikenal saat ini adalah merk-merk yang berbau barat dengan segala bentuk strategi pemasarannya. Hal tersebut pulalah yang sekiranya membuat pasar domestik sedikit sepi, yaitu produsen kurang memberikan kebutuhan informasi mengenai produknya sehingga masyarakat pun belum optimal mendapatkan informasi yang memuaskan tentang produk dalam negeri, di samping faktor harga dan mutu, walaupun teknologi informasi sudah semakin canggih.

Sebagai respons dari gelombang globalisasi yang merugikan tadi, dewasa ini muncul gerakan atau kesadaran untuk "menolak" globalisasi dengan mengukuhkan tradisi atau potensi lokal. Di Bantul, Yogyakarta, misalnya, telah diluncurkan kebijakan baru yang diberi nama "Amanat Perjuangan Rakyat Bantul". Salah satu komitmennya adalah penggunaan bahasa Jawa dalam proses pelayanan publik setiap tanggal 20 setiap bulannya.

Masih di kawasan Yogya, ada upaya unik mempromosikan lokalism, yakni masuknya tiwul dalam food-industry modern yang dikelola oleh Indofood. Sementara itu di tataran internasional, "penolakan" terhadap globalisasi juga gencar dilakukan, termasuk tidak mau menggunakan produk-produk IT dari Microsoft, atau juga minuman kemasan yang banyak tersebar di pasaran. Nyatanya, orang-orang yang menolak produk global juga bisa eksis sebagaimana orang lain yang globalized (Kompas, 20/1/04).

Bentuk-bentuk penolakan seperti ini tidak hanya dengan maksud untuk mempertahankan perekonomian melalui pengembangan produk lokal, melainkan juga sebagai salah satu cara dalam rangka mempertahankan kebudayaan lokal yang semakin lama semakin terkikis. Ia telah menghancurkan kebudayaan-kebudayaan lokal, merobek pasar-pasar di belahan dunia mana pun, dan merobohkan dinding-dinding batas antarnegara. Proses globalisasi akan menghapus identitas dan jati diri. Kebudayaan lokal atau etnis akan ditelan oleh kekuatan budaya besar atau kekuatan budaya global.

2.3.Serbuan Produk Impor Berlisesnsi

Produk impor yang masuk ke Indonesia melalui pasar bebas semakin banyak, semakin bebas berkeliaran di toko – toko dan mal – mal di seluruh Indonesia, berbaur dengan produk impor berlisensi yang sebelumnya lebih dahulu berkecimpung di dunia marketing nusantara. Sebagian besar merek yang kita kenal di barang – barang elektronik, produk kecantikan, makanan dan minuman, perabotan rumah tangga, tempat makan, kendaraan, bahkan majalah yang sehari – hari kita baca pun merupakan produk impor berlisesnsi. Produk – produk yang banyak masuk ke Indonesia rata – rata dari Amerika, Taiwan, Jepang, dan yang paling dikenal adalah dari Cina

Masyarakat lebih memilih produk import yang berlisensi karena kualitas produk yang sekiranya telah dikenal di nasional maupun internasional. Hanya dengan melihat mereknya saja, mereka yakin bahwa merek tersebut terjamin kualitasnya. Misalnya alat elektronik buatan Jepang sudah pasti lebih bagus atau bahan makanan dan obat - obatan lebih percaya produksi atau merek – merek dari Cina yang mereka percaya sudah pasti lebih terjamin. Merek adalah nama, istilah, tanda, simbol atau rancangan atau kombinasi hal-hal tersebut, yang dimaksud untuk mengidentifikasi barang dan jasa dari seseorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing (Purnama, 2002). Merek bukanlah sekedar simbol, merek adalah janji penjual yang konsisten, merek akan memberikan ciri manfaat dan kelebihan- kelebihan suatu produk kepada pembeli. Merek sebenarnya mempunyai 6 tingkat pengertian, yaitu :

1. Atribut

Atribut-atribut yang mengingatkan pada merek-merek tertentu. Mercedez menyatakan sesuatu yang mahal, dibuat dengan baik, terancang baik, tahan lama, bergengsi tinggi, dan sebagainya.

2. Manfaat

Pembeli membeli produk, berarti membeli manfaat yang baik manfaat fungsional atau manfaat emosional. Misalnya atribut mahal mungkin diterjemahkan menjadi manfaat emosional, mobil ini membuat saya merasa penting dan dihargai.

3. Nilai

Nilai yang dibentuk oleh produsen. Jadi Mercedez berarti kenerja tinggi, aman, bergengsi, dan sebagainya.

4. Budaya

Merek dapat mewakili budaya tertentu. Mercedez mewakili budaya Jerman yakni terorganisir, efisien, berkualitas tingi.

5. Kepribadian

Merek dapat mencerminkan sebuah kepribadian seseorang yang sesuai dengan dorongan naluri, perasaan dan pengetahuannya.

6. Pemakai

Merek dapat menunjukan jenis konsumen yang membeli dan menggunakan merek tersebut. Pemakai Mercedez, misalnya, diasosiasikan dengaan seorang manajer puncak.

Produk – produk berlisensi dan franchise yang bebas berkeliaran ini ada akhirnya hanya akan mempengaruhi tingkat konsumerisme dan gaya hidup masyarakat Indonesia. Dalam masyarakat di mana MTV telah menjadi gaya hidup, McDonalds telah menjadi halte pemberhentian setiap orang untuk mengisi perut kosong dengan salad, kentang, dan sepotong sandwich, dan shoping malls telah sedemikian menjamur menggilas pasar-pasar tradisional dan warung-warung kecil pinggiran jalan, imagology telah menjadi ideologi gaya hidup yang diam-diam dianut semua orang.

3. KESIMPULAN

Globalisasi tidak hanya dipandang sebagai sebuah proses yang tunggal dan niscaya (inevitable), namun lebih harus dipandang sebagai sebuah proses yang harus dikritisi dalam perkembangannya. Globalisasi memiliki sisi baik dan buruk yang berdampak besar terhadap seluruh kehidupan manusia di dunia karena ruang lingkupnya yang luas. Oleh karena itulah, yang terpenting sekarang bukanlah mengambil secara mentah atau menolak konsep globalisasi yang ditawarkan, namun lebih kepada bagaimana globalisasi ini dapat dikendalikan menjadi sebuah proses yang lebih berkeadilan global.

Munculnya berbagai produk import di Indonesia memang memiliki banyak dampak positif maupun negatif di dalamnya. Namun yang perlu diperhatikan di sini ialah masyarakat Indonesia harus lebih dapat mengendalikan diri dan mentalnya agar tidak terlalu tergiur pada “kelebihan” yang ditawarkan produk import tersebut, namun juga dapat melihat secara seksama kualitas dari produk import yang ditawarkan itu sendiri dengan mengkonsumsi barang atau produk yang disesuaikan dengan pada kebutuhan mereka. Dengan demikian mereka tidak akan menjadi masyarakat yang konsumtif dan berbudaya “import minded”, melainkan menjadi masyarakat yang memiliki “sense of belonging” yang tinggi terhadap produk dalam negeri mereka sendiri.