Jumat, 30 April 2010

Menulis : Menggoreskan Kehidupan

bagi anda yang berminat mengadakan training tentang bidang motivasi penulisan, dapat menghubungi kami dengan contact person : 081334537263 atau 0341 - 559634
modul materi dapat didownload di sini : http://www.slideshare.net/guestf6ff7f/muwafik-ub-motivasi-menulis-umum

Senin, 15 Maret 2010

Menjadi Public Speaker yang Hebat

MENJADI SEORANG PUBLIC SPEAKER HEBAT

Oleh : Akh. Muwafik Saleh, S.Sos, M.Si

Keterampilan sebagai pembicara dihadapan publik merupakan sebuah kecerdasan tersendiri yang harus dilatih oleh seseorang dalam berinteraksi dan mempengaruhi orang lain. keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupan baik bidang bisnis, pendidikan, dan apapun haruslah memiliki satu keterampilan ini. dalam bidang bisnis, saat anda menjual sebuah produk/jasa maka keterampilan komunikasi menjadi kunci kesuksesan penting begitu juga dengan bidang lainnya.........
baca selengkapnya dan ikuti materi trainingnya di link berikut :www.slidshare.net/muwafik
selamat berlatih dan semoga menjadi publik speaker yg hebat. bagi anda yang berkeinginan mengadakan pelatihan bidang komunikasi silahkan menghubungi alamat kantor INSAN DINAMI INDONESIA jl. vila bukit tidar A4 / 286, merjosari malang, telp/fax. 0341-559634 atau di nomor kontak 081 334537263. sekarang juga......

Sabtu, 13 Maret 2010

Training Dahsyat untuk Guru PAUD, TK, SD

Training Untuk Guru PAUD
oleh Akh. Muwafik

Pendidikan anak sejak dini adalah sebuah investasi yang sangat berharga , mengajar pada saat itu adalah ibarat menyentuh masa depan mereka. hitam putihnya dunia mereka ke depan sangat tergantung pada cara guru menyentuh mereka sejak saat kemasan tersebut (golden age). untuk itu fokus pembelajaran pada usia dini (3-6 tahun) ini adalah memberikan pengalaman hidup yang berharga pada mereka. maka kekuatan komunikasi dan pesan positif, motivasi dan doa (KOMODO) menjadi kunci yang sangat berperan menentukan keberhasilan masa depan mereka nantinya. selamat mengukir masa depan mereka sejak dini.
Bagi anda yang menginginkan materi training dunia PAUD silahkan klik dan dwnload materi pada link berikut :http://www.slideshare.net/muwafik
dan bagi ada yang berminat mengadakan training untuk peningkatan kompetensi dan motivasi para guru PAUD (playgorup dan TK/SD) silahkan menghubungi kami di 081 334 537263 / telp.fax. 0341-559634 kontak person Akh. Muwafik Saleh, alamat Vila Bukit Tidar A4 / 286 Malang. segera dapatkan pencerahan dan motivasi. hubungi sekarang juga jangan tunda kesempatan emas ini........salam dahsyat dari sang maestro.

Selasa, 16 Februari 2010

Pendidikan dan Manusia Beradab

Pendidikan dan Manusia Beradab PDF Cetak E-mail
Penulis: Adian Husaini       
Jurnal Islamia-Republika (kerjasama INSISTS dan Harian Republika) edisi Kamis (9 Juli 2009), membahas secara panjang lebar tentang konsep pendidikan dan adab dalam ajaran Islam. Pembahasan ini mengangkat kembali salah ajaran yang sangat penting dalam Islam, yaitu masalah adab. Banyak ulama yang sudah membahas masalah adab. Pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, misalnya, dalam kitabnya, Ādabul Ālim wal-Muta’allim, mengutip pendapat Imam al-Syafi’i yang menjelaskan begitu pentingnya kedudukan adab dalam Islam. Bahkan, Sang Imam menyatakan, beliau mengejar adab laksana seorang ibu yang mengejar anak satu-satunya yang hilang.

Lalu, Syaikh Hasyim Asy’ari mengutip pendapat sebagian ulama: ”at-Tawhīdu yūjibul īmāna, faman lā īmāna lahū  lā tawhīda lahū;  wal-īmānu yūjibu al-syarī’ata, faman lā syarī’ata lahū, lā  īmāna lahū wa lā tawhīda lahū; wa al-syarī’atu yūjibu al-adaba, faman lā  ādaba lahū, lā syarī’ata lahū wa lā īmāna lahū wa lā tawhīda lahū.” (Hasyim Asy’ari, Ādabul Ālim wal-Muta’allim, Jombang: Maktabah Turats Islamiy, 1415 H). hal. 11).

Jadi, secara umum, menurut Kyai Hasyim Asy’ari,  Tauhid mewajibkan wujudnya iman. Barangsiapa tidak beriman, maka dia tidak bertauhid; dan iman mewajibkan syariat, maka barangsiapa yang tidak ada syariat padanya, maka dia tidak memiliki iman dan tidak bertauhid; dan syariat mewajibkan adanya adab; maka barangsiapa yang tidak beradab maka (pada hakekatnya) tiada syariat, tiada iman, dan tiada tauhid padanya.

Jadi, betapa pentingnya kedudukan adab dalam ajaran Islam. Lalu, apa sebenarnya konsep adab?  Uraian yang lebih rinci tentang konsep adab dalam Islam disampaikan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, pakar filsafat dan sejarah Melayu. Menurut Prof. Naquib al-Attas, adab adalah “pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan darjat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta.”  Pengenalan adalah ilmu; pengakuan adalah amal. Maka, pengenalan tanpa pengakuan seperti ilmu tanpa amal; dan pengakuan tanpa pengenalan seperti amal tanpa ilmu. ”Keduanya sia-sia karana yang satu mensifatkan keingkaran dan keangkuhan, dan yang satu lagi mensifatkan ketiadasedaran dan kejahilan,” demikian Prof. Naquib al-Attas. (SM Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, (ISTAC, 2001).

Begitu pentingnya masalah adab ini, maka bisa dikatakan, jatuh-bangunnya umat Islam, tergantung sejauh mana mereka dapat memahami dan menerapkan konsep adab ini dalam kehidupan mereka. Manusia yang beradab terhadap orang lain akan paham bagaimana mengenali dan mengakui seseorang sesuai harkat dan martabatnya. Martabat ulama yang shalih beda dengan martabat orang fasik yang durhaka kepada Allah. Jika al-Quran menyebutkan, bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling takwa (QS 49:13), maka seorang yang beradab tidak akan lebih menghormat kepada penguasa yang zalim ketimbang guru ngaji di kampung yang shalih.

Dalam masyarakat yang beradab, seorang penghibur tidak akan lebih dihormati ketimbang pelajar yang memenangkan Olimpiade fisika. Seorang pelacur atau pezina ditempatkan pada tempatnya, yang seharusnya tidak lebih tinggi martabatnya dibandingkan muslimah-muslimah yang shalihah. Itulah adab kepada sesama manusia.

Adab juga terkait dengan ketauhidan, sebab adab kepada Allah mengharuskan seorang manusia tidak menserikatkan Allah dengan yang lain. Tindakan menyamakan al-Khalik dengan makhluk merupakan tindakan yang tidak beradab. Karena itulah, maka dalam al-Quran disebutkan, Allah murka karena Nabi Isa a.s. diangkat derajatnya dengan al-Khalik, padahal dia adalah makhluk. Tauhid adalah konsep dasar bagi pembangunan manusia beradab. Menurut pandangan Islam, masyarakat beradab haruslah meletakkan al-Khalik pada tempat-Nya sebagai al-Khalik, jangan disamakan dengan makhluk. Karena membawa agama Tauhid (bukan agama Kristen), maka Nabi Isa a.s. mengingatkan: ”Dan ingatlah ketika Isa ibn Maryam, wahai anak keturunan Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua, membenarkan apa yang telah ada pada kita, yaitu Taurat dan memberikan kabar gembira (akan datangnya) seorang Rasul yang bernama Ahmad.” (QS 61:6).

Jadi, dalam pandangan Islam, Isa a.s. adalah Nabi, utusan Allah, sebagaimana para nabi sebelumnya. Itulah tindakan yang beradab. Karena Nabi Isa a.s. memang manusia, dan harus kita tempatkan sebagai manusia, bukan sebagai ”sekutu” Allah atau ”setara” dengan Allah. Maka, ketika kaum Kristen mengangkat Isa a.s. sebagai Tuhan atau sama dengan derajat Tuhan, maka Allah murka. Dan kepada utusan-Nya yang terakhir, Muhammad saw, maka dijelaskanlah kemurkaan Allah tersebut sebagaimana disebutkan dalam al-Quran, (yang artinya): ”Dan mereka berkata: Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu (yang mengatakan seperti itu) telah melakukan suatu perkara yang sangat munkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.” (QS 19:88-91).

Itulah adab kepada Allah SWT. Nabi Muhammad saw adalah juga manusia. Tetapi, beliau berbeda dengan manusia lainnya, karena beliau adalah utusan Allah. Sesama manusia saja tidak diperlakukan sama. Seorang presiden dihormati, diberi pengawalan khusus, diberikan gaji yang lebih tinggi dari gaji guru ngaji, dan sering disanjung-sanjung, meskipun kadangkala keliru. Orang berebut untuk menjadi presiden  karena dianggap jika menjadi presiden akan menjadi orang terhormat atau memiliki kekuasaan besar sehingga  dapat melakukan perubahan.

Sebagai konsekuensi adab kepada Allah, maka adab kepada Rasul-Nya,  tentu saja adalah dengan cara menghormati, mencintai, dan menjadikan Sang Nabi saw sebagai suri tauladan kehidupan (uswah hasanah). Maka, benarlah pendapat ulama yang dikutip Kyai Hasyim Asy’ari, jika orang tidak mengakui dan menghormati syariat Nabi Muhammad saw, bagaimana mungkin dia bisa dikatakan mempunyai iman? Sikap yang melecehkan syariat Allah jelas merupakan sikap manusia yang tidak beradab. Maka, sangatlah tidak beradab, sebuah disertasi doktor dan berbagai buku tentang Pluralisme Agama yang menyatakan, bahwa untuk mendapatkan pahala dari Allah, tidaklah perlu mengakui kenabian Muhammad saw.

Setelah beradab kepada Nabi Muhammad saw, maka adab berikutnya adalah adab kepada ulama. Ulama adalah pewaris nabi. Maka, kewajiban kaum Muslim adalah mengenai, siapa ulama yang benar-benar menjalankan amanah risalah, dan siapa ulama ”palsu” atau ”ulama jahat (ulama su’). Ulama jahat harus dijauhi, sedangkan ulama yang baik harus dijadikan panutan dan dihormati sebagai ulama. Mereka tidak lebih rendah martabatnya dibandingkan dengan para umara. Maka, sangatlah keliru jika seorang ulama merasa lebih rendah martabatnya dibandingkan dengan penguasa. Adab adalah kemampuan dan kemauan untuk mengenali segala sesuatu sesuai dengan martabatnya. Ulama harusnya dihormati karena ilmunya dan ketakwaannya, bukan karena kepintaran bicara, kepandaian menghibur, dan banyaknya pengikut. Maka, manusia beradab dalam pandangan Islam adalah yang mampu mengenali siapa ulama pewaris nabi dan siapa ulama yang palsu sehingga dia bisa meletakkan ulama sejati pada tempatnya sebagai tempat rujukan.

Syekh Wan Ahmad al Fathani dari Pattani, Thailand Selatan, (1856-1908), dalam kitabnya Hadiqatul Azhar war Rayahin (Terj. Oleh Wan Shaghir Abdullah), berpesan agar seseorang mempunyai adab, maka ia harus selalu dekat dengan majelis ilmu. Syekh Wan Ahmad  menyatakan: “Jadikan olehmu akan yang sekedudukan engkau itu (majelis) perhimpunan ilmu yang engkau muthalaah akan dia. Supaya mengambil guna engkau daripada segala adab dan hikmah.”

Karena itulah, sudah sepatutnya dunia pendidikan kita sangat menekankan proses ta’dib, sebuah proses pendidikan yang mengarahkan para siswanya menjadi orang-orang yang beradab. Sebab, jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezaliman, kebodohan, dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Karena itu, adab mesti ditanamkan pada seluruh manusia dalam berbagai lapisan, pada murid, guru, pemimpin rumah tangga, pemimpin bisnis, pemimpin masyarakat, dan lainnya. Bagi orang-orang yang memegang institusi, bila tidak terdapat adab, maka akan terjadi kerusakan yang lebih parah. Kata Prof Wan Mohd. Nor Wan Daud, guru besar di Akademi Alam dan Tamadun Melayu Universiti Kebangsaan Malaysia:  ”Gejala penyalahgunaan kuasa, penipuan, pelbagai jenis rasuah, politik uang, pemubaziran, kehilangan keberanian dan keadilan, sikap malas dan ’sambil lewa’, kegagalan pemimpin rumah tangga, dan sebagainya mencerminkan masalah pokok ini.”

Jadi, menurut  Prof. Wan Mohd. Nor,   jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezaliman, kebodohan, dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Manusia dikatakan zalim, jika – misalnya – meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Maka, dengan pemahaman seperti itu, seorang Muslim yang beradab pasti lebih mencintai dan mengidolakan Nabi Muhammad saw ketimbang manusia mana pun. Manusia Muslim yang beradab juga akan menghormati sahabat-sahabat nabi dan keluarganya. Begitu juga seorang muslim yang beradab akan lebih menghormati ulama pewaris nabi, ketimbang penguasa yang zalim.  Salah satu adab penting yang harus dimiliki seorang Muslim adalah adab terhadap ilmu. Seorang yang beradab, haruslah  mengenal derajat ilmu, mana ilmu yang wajib ‘ain (wajib dimiliki oleh setiap muslim) dan mana yang wajib kifayah (wajib dimiliki sebagian Muslim).

Islam memandang kedudukan ilmu sangatlah penting, sebagai jalan mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya. Ilmu juga satu-satunya jalan meraih adab. Orang yang berilmu (ulama) adalah pewaris nabi. Karena itu, dalam Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali mengingatkan, orang yang mencari ilmu dengan niat yang salah, untuk mencari keuntungan duniawi dan pujian manusia, sama saja dengan menghancurkan agama. Dalam kitabnya, Adabul ‘Alim wal-Muta’allim, KH Hasyim Asy’ari juga mengutip hadits Rasulullah saw: “Barangsiapa mencari ilmu bukan karena Allah atau ia mengharapkan selain keridhaan Allah Ta’ala, maka bersiaplah dia mendapatkan tempat di neraka.”              

Ibnul Qayyim al-Jauziyah, murid terkemuka Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, juga menulis sebuah buku berjudul Al-Ilmu.  Beliau mengutip ungkapan Abu Darda’ r.a.  yang menyatakan: “Barangsiapa berpendapat bahwa pergi menuntut ilmu bukan merupakan jihad, sesungguhnya ia kurang akalnya.”  Abu Hatim bin Hibban juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah r.a., yang  pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa masuk ke masjidku ini untuk belajar kebaikan atau untuk mengajarkannya, maka ia laksana orang yang berjihad di jalan Allah.”

Karena begitu mulianya kedudukan ilmu dalam Islam, maka seorang yang beradab tidak akan menyia-nyiakan umurnya untuk menjauhi ilmu, atau mengejar ilmu yang tidak bermanfaat, atau salah niat dalam meraih ilmu. Sebab, akibatnya sangat fatal. Ia tidak akan pernah mengenal Allah, tidak akan pernah meraih kebahagiaan sejati. Lebih fatal lagi, jika manusia yang tidak beradab itu kemudian merasa tahu, padahal dia sebenarnya ia tidak tahu.

Itulah adab. Dunia pendidikan Islam, khususnya, sudah saatnya mengkonsentrasikan diri untuk membentuk manusia-manusia yang beradab. Itu hanya bisa dilakukan jika dunia pendidikan mengajarkan ilmu yang benar secara proporsional. Salah satu mata pelajaran penting  yang harus diajarkan dengan benar, adalah pelajaran sejarah. Dalam berbagai kesempatan tatap muka dengan para guru dan siswa di berbagai lembaga pendidikan Islam, saya masih menjumpai sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan Islam yang belum memiliki buku sejarah tersendiri. Masih banyak siswa sekolah Islam yang memahami bahwa Pangeran Diponegoro berperang semata-mata hanya karena urusan tanah leluhurnya yang dirampas oleh Penjajah Kristen Belanda. Padahal, bukti-bukti sejarah menunjukkan, Pangeran Diponegoro berperang dengan tujuan menegakkan syariat Islam di Tanah Jawa.

Mengutip buku berjudul Gedenkschrift van den Orloog op Java, karya F.V.A. Ridder de Stuers, (Amsterdam: Johannes Müller, 1847), dalam disertasi doktornya di Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rifyal Ka’bah memaparkan penuturan seorang Letnan Kolonel Belanda pada masa Perang Diponegoro (1825-1830), yang menyatakan bahwa tujuan Perang Diponegoro adalah agar hukum Islam berlaku untuk orang Jawa.

Diceritakan dalam buku ini, Belanda mengirim delegasi ke pedalaman Salatiga untuk berunding dengan Pangeran Diponegoro dan para pembantunya. Delegasi yang membawa surat Gubernur Jenderal Hendrik Markus de Kock ini  diterima oleh Kyai Modjo, Ali Basa, dan lain-lain. Belanda meminta peperangan  segera dihentikan, agar tidak jatuh korban lebih banyak lagi. Kyai Modjo menjawab bahwa perang tidak dapat dihentikan selama tuntutan mereka belum terpenuhi. Dalam perundingan itu, pihak Diponegoro juga menggunakan ungkapan “Laa mauta illaa bil-ajal” (Tidak ajal berpantang mati). Kyai Modjo juga menyebutkan QS an-Naml:27 yang merupakan ucapan Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis, (yang artinya): “Jangan kalian bersikap arogan terhadapku dan datanglah kepadaku dengan menyerahkan diri.”  Ketika ditanya, apa maksud ungkapan itu, Kyai Modjo menjawab: “Komt gij allen tot mijnen Vorst,  en gaat langs het pad der regtvaardigheit.” (Supaya kalian datang menemui Pangeranku dan berjalanlah melalui jalan keadilan). Kyai Modjo menegaskan, bahwa keinginan Diponegoro adalah agar hukum Islam seluruhnya berlaku untuk orang Jawa. Sedangkan persengketaan antara orang Jawa dan orang Eropa diputuskan berdasarkan hukum Islam dan persengketaan antara orang Eropa dengan orang Eropa, dengan persetujuan Sultan, diputuskan berdasarkan hukum Eropa.  (Lihat, Rifyal Ka’bah, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Universitas Yarsi Jakarta).

Maka, sebenarnya merupakan tindakan yang tidak beradab, memandang pejuang Islam, seperti Pangeran Diponegoro seolah-olah hanya berperang karena urusan tanah leluhurnya. Di buku sejarah SMA bahkan masih ada yang memaparkan bahwa Khalifah Utsman bin Affan adalah pemimpin yang lebih mementingkan keluarganya dibandingkan dengan negaranya. Pemaparan seperti ini sangat tidak sesuai dengan fakta sejarah dan sangat tidak beradab. Karena itulah, para penyelenggara pendidikan Islam harus benar-benar memeriksa materi pelajaran yang diajarkan kepada siswanya. Mereka tidak bisa bersikap tidak peduli dan membiarkan siswa-siswa mereka diajarkan berbagai materi pelajaran yang justru mengarahkan siswanya menjadi manusia-manusia yang tidak beradab. [Solo, 24 Juli 2009/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Kamis, 10 Desember 2009

Busana Kerja

DESAIN BUSANA KERJA DALAM PELAYANAN PUBLIK
Oleh : Akh. Muwafik Saleh

PENDAHULUAN

Dalam pelaksanaan komunikasi pelayanan public salah satu aspek penting yang memberikan pengaruh adalah aspek performance image, salah satunya adalah melalui busana yang dipergunakan. Sebagaimana dalam prinsip komunikasi dipahami bahwa setiap perilaku berpotensi komunikasi. Begitupula dengan busana yang dipergunakan dalam pelaksanaan pelayanan akan menentukan efektifitas pelayanan. Untuk itu kegiatan desain busana adalah langkah awal dalam membangunperformance image tersebut.
Sebagai langkah awal dari proses penciptaan suatu produk, kegiatan mendesain memiliki peranan yang penting karena desain akan menjadi pedoman dalam mewujudkan suatu karya hasil kreativitas. Proses pembuatan desain pada dasarnya merupakan kegiatan mengakses dan mengintegrasikan berbagai input/informasi yang dibutuhkan untuk membuat suatu produk dalam bentuk gambar dua dimensi, seperti halnya pada proses pembuatan desain busana.
Desain busana adalah kumpulan informasi visual tentang suatu busana yang akan dibuat, berkaitan dengan kesempatan penggunaan, siapa penggunanya, berbagai elemen penyusun yang dibutuhkan, teknik pembuatan, hingga pada persoalan pembiayaan hingga pada sistem pemasarannya. Pada jenis busana tertentu seperti pada busana kerja, aspek psikologis dan filosofis dari busana yang akan dibuatpun akan menjadi perhatian. Setiap busana yang akan dibuat sangat memerlukan penjabaran informasi yang akurat, karena pada jenis busana ini eksistensi, kredibilitas dan citra organisasi turut ditentukan.





PENGERTIAN BUSANA KERJA
Berdasarkan studi mengenai pakaian yang menunjukkan jenis pekerjaan, didapat satu kesimpulan bahwa tanda utama untuk mengenal seseorang dalam pekerjaan tertentu adalah simbol atau ciri busananya.
Encyclopedia of World Art memberikan satu definisi tentang pakaian dinas sebagai berikut :
“The division of labour characteristic of our own civilization and our
own concern for function and suitable dress for special costumes. Some
are styled with particular elegance in order to impress the public, as in
case of door man of great store.”

FUNGSI BUSANA KERJA
Secara garis besar busana kerja / pakaian dinas mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Untuk mencapai suatu kesamaan dan untuk mengidentifikasi suatu golongan atau kelompok tertentu.
2. Memberikan suatu pandangan/identitas tertentu pada masyarakat tentang eksisitensi dari suatu organisasi.
3. Dapat menghadirkan stabilitas dan efisiensi.
4. Menghilangkan persaingan dalam cara berbusana antar sesama pegawai.
5. Mencegah cara berbusana yang berlebih-lebihan yang dapat menimbulkan suatu pengaruh yang tidak baik terhadap profesi dan citra organisasi.

PROSES PEMBUATAN DESAIN BUSANA KERJA
Proses perancangan Busana kerja/pakaian dinas merupakan satu kegiatan yang harus dijalani seorang desainer secara komprehensif, yang dimulai dengan menghimpun informasi berkaitan dengan :
1. Pengertian dan eksistensi busana kerja/pakaian dinas
2. visi dan missi perusahaan
3. corporate image
4. job description, serta
5. siklus aktivitas pekerjaannya.

Selanjutnya input-input tersebut dijabarkan dalam bentuk desain yang representatif dalam menunjang aktivitas kerja serta citra organisasi. Pakaian dinas berbeda dengan pakaian sehari-hari yang dapat menerapkan berbagai model dan elemen sesuai selera dan keinginan penggunanya, karena pakaian dinas lebih dekat hubungannya dengan fungsi dan tujuan penggunaan dari busana tersebut dalam kaitannya dengan sistem yang berlaku pada suatu instansi/lembaga/perusahaan.

LANGKAH DALAM MENDESAIN BUSANA KERJA PELAYANAN PUBLIK

Seragam atau busana petugas pelayaan, secara fungsional harus memiliki kaitan yang erat dengan tugas-tugas yang diemban, yaitu tugas-tugas yang dilakukan berkaitan dengan aspek mobilitas yang tinggi, memudahkan dalam proses pemberian pelayaan serta harus merefleksikan citra perusahaan. Dalam kaitannya dengan fungsi busana sebagai alat untuk menyampaikan diri atau pengungkapan diri seseorang, maka pada seragam petugas pelayanan, selain harus terlihat indah secara visual, juga harus dapat membantu dalam memberikan kesan yang baik terhadap pemakainya, terutama berkaitan dengan layanan prima yang diberikan.
Kondisi lain dari pakaian dinas/seragam adalah sebagai salah satu identitas perusahaan, yang diharapkan dapat memberikan kesan tertentu sesuai dengan visi dan missi perusahaan. Kesan yang ingin ditampilkan dari petugas organisasi pelayanan adalah mencerminkan kesan bersahabat, akrab, profesional dan dapat memberikan layanan prima pada para pelanggannya.
Maka desain model pakaian atau busana dinas petugas pelayanan harus dibuat sedemikian rupa agar dapat menunjang pelaksanaan mekanisme pekerjan petugas pelayanan, sehingga mobilitas kerjanya dapat berjalan dengan baik. Selain dari itu detail model yang dibuat harus harus dapat memberikan makna dan citra yang diharapkan dari penyelenggaraan pelayanan. Langkah dalam mendesain busana kerja yaitu :
1. Tahap pertama dari proses pembuatan desain busana kerja/pakaian dinas tersebut adalah dengan membuat sketsa desain (Design Sketching) . Design Sketching yaitu suatu desain yang digunakan untuk mengembangkan ide-ide yang ada dalam fikiran, dan dituangkan secara spontan pada media kertas dengan secepat mungkin. Konsep/detail model busana harus ditampilkan sejelas mungkin, namun detail anatomi tubuh yang tidak berpengaruh dalam mendukung penampilan gambar desain seperti tangan, kaki dan wajah, tidak perlu digambar.

Gambar : Contoh Sketsa Desain Model 1 Busana Kerja/Pakaian Dinas
Pramugara dan Pramugari Kereta Api

Gambar : Contoh Sketsa Desain Model 2 Busana Kerja/Pakaian Dinas Pramugara dan Pramugari Kereta Api

2. Proses selanjutnya dari rangkaian kegiatan pembuatan busana kerja / pakaian dinas petugas pelayanan adalah pembuatan Desain Presentasi (Presentation Drawing) yaitu suatu kegiatan mempresentasikan desain harus merupakan gabungan antara pengetahuan teknik yang meliputi sistematika desain, berbagai perhitungan dan analisis berkaitan deng an struktur, material, harga serta elemen estetika dengan teknik pemaparan dalam bentuk visualisasi gambar desain, yaitu melalui desain presentasi (presentation drawing) . Presentation Drawing adalah adalah desain model busana yang digambar selengkap dan sesempurna mungkin dengan mencantumkan berbagai aspek yang dapat mendukung performance desain secara keseluruhan. Penyajiannya dilengkapi dengan uraian tentang detail model, penggunaan bahan dasar dan bahan pelengkap, jenis busana dan informasi lain yang mendukung.
Langkah awal dari pembuatan Desain Presentasi busana kerja/pakaian dinas petugas pelayanan adalah dengan menghimpun informasi dari berbagai referensi berkaitan dengan :
• Penggunaan elemen tekstil dan elemen penunjang lainnya yang dapat mendukung tujuan pembuatan pakaian dinas petugas pelayanan sebagaimana telah dirumuskan terdahulu.
• Penerapan warna yang dapat mendukung penampilan fisik dan psikhis busana kerja/pakaian dinas petugas pelayanan secara keseluruhan.
• Teknik jahit yang sesuai dan menunjang penampilan busana kerja/ pakaian dinas tersebut secara keseluruhan
 
gambar :
Contoh Desain Presentasi Busana Kerja/Pakaian Dinas untuk Pramugara Kereta Api Model 1
gambar :
Contoh Desain Presentasi Busana Kerja/Pakaian Dinas untuk Pramugari Kereta Api Model 1

 3. Tindak lanjut dari kegiatan presentasi desain adalah membuat perencanaan produksi dari busana-busana yang telah disepakati untuk diproduksi. Dalam mengantisipasi berbagai kegiatan pada proses produksi, maka diperlukan suatu media yang dapat memberikan berbagai kemudahan dalam menentukan kinerja produksi secara efektif, efisien dan ekonomis, yang salah satunya adalah Desain Produksi (Production Sketching). Production Sketching merupakan gambar desain busana yang digunakan sebagai pedoman dalam proses produksi pada sebuah industri busana. Pembuatan gambar ini diproyeksikan sebesar-besarnya untuk mengakomodasi sistem kerja industri yang kompleks dengan kapasitas/volume produksi yang besar, untuk menstandarisasi produk pada kisaran standar mutu tertentu sesuai dengan keinginan/pesanan konsumen. Gambar production sketching yang lengkap akan memuat semua detail model busana beserta keterangan-keterangan yang mendukung, sehingga mudah difahami oleh seluruh team produksi seperti bagian pola, sampel, potong, jahit, finishing, supervisor dan follow up (Merchandiser). Gambar Production sketching harus dilengkapi dengan production sheet/worksheet, yaitu lembar kerja yang menguraikan semua keterangan yang diperlukan dalam proses pembuatan produk busana. Pembuatan Desain Produksi (Production Sketching) busana kerja/pakaian dinas petugas pelayanan harus diakomodasi oleh pengetahuan, wawasan dan pemahaman desainer tentang :
• Teknik jahit dalam sistem produksi massal
• Konsep dan teknik pembuatan pola (pattern making)
• Sistem pembuatan sampel (sample making)
• Sistem instalasi jaringan kerja produksi massal

 
Gambar :
Contoh Desain Produksi Busana Kerja/Pakaian Dinas
Pramugara Kereta Api Model 1

Gambar Production Sketching


Gambar :
Contoh Desain Produksi Busana Kerja/Pakaian Dinas
Pramugari Kereta Api Model 1

Gambar Production Sketching


gambar :
Contoh Desain Produksi Busana Kerja/Pakaian Dinas
Pramugara Kereta Api Model 2

Gambar Production Sketching

Gambar :
Contoh Desain Produksi Busana Kerja/Pakaian Dinas
Pramugari Kereta Api Model 2

Gambar Production Sketching

Tidak dapat dipungkiri bahwa busana kerja merupakan salah satu aspek penting dalam pelaksanaan komunikasi pelayanan ublik. Busana menjadi media yang menjelaskan identitas suatu lembaga pelayanan termasuk bentuk apresiasi dalam memberikan pelayanan terhadap public dengan haapan public yang dilayani memberikan respond an mempersepsi secara positif para petugas sehingga pelayanan yang diberikan dapat berjalan dengan baik. Begitu pula busana akan mendorong terbangunnya citra lembaga pelayanan dimata public sebagai sebuah lembaga yang professional yang responsive dan dekat dengan public yang dilayananinya.