Senin, 15 Maret 2010

Menjadi Public Speaker yang Hebat

MENJADI SEORANG PUBLIC SPEAKER HEBAT

Oleh : Akh. Muwafik Saleh, S.Sos, M.Si

Keterampilan sebagai pembicara dihadapan publik merupakan sebuah kecerdasan tersendiri yang harus dilatih oleh seseorang dalam berinteraksi dan mempengaruhi orang lain. keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupan baik bidang bisnis, pendidikan, dan apapun haruslah memiliki satu keterampilan ini. dalam bidang bisnis, saat anda menjual sebuah produk/jasa maka keterampilan komunikasi menjadi kunci kesuksesan penting begitu juga dengan bidang lainnya.........
baca selengkapnya dan ikuti materi trainingnya di link berikut :www.slidshare.net/muwafik
selamat berlatih dan semoga menjadi publik speaker yg hebat. bagi anda yang berkeinginan mengadakan pelatihan bidang komunikasi silahkan menghubungi alamat kantor INSAN DINAMI INDONESIA jl. vila bukit tidar A4 / 286, merjosari malang, telp/fax. 0341-559634 atau di nomor kontak 081 334537263. sekarang juga......

Sabtu, 13 Maret 2010

Training Dahsyat untuk Guru PAUD, TK, SD

Training Untuk Guru PAUD
oleh Akh. Muwafik

Pendidikan anak sejak dini adalah sebuah investasi yang sangat berharga , mengajar pada saat itu adalah ibarat menyentuh masa depan mereka. hitam putihnya dunia mereka ke depan sangat tergantung pada cara guru menyentuh mereka sejak saat kemasan tersebut (golden age). untuk itu fokus pembelajaran pada usia dini (3-6 tahun) ini adalah memberikan pengalaman hidup yang berharga pada mereka. maka kekuatan komunikasi dan pesan positif, motivasi dan doa (KOMODO) menjadi kunci yang sangat berperan menentukan keberhasilan masa depan mereka nantinya. selamat mengukir masa depan mereka sejak dini.
Bagi anda yang menginginkan materi training dunia PAUD silahkan klik dan dwnload materi pada link berikut :http://www.slideshare.net/muwafik
dan bagi ada yang berminat mengadakan training untuk peningkatan kompetensi dan motivasi para guru PAUD (playgorup dan TK/SD) silahkan menghubungi kami di 081 334 537263 / telp.fax. 0341-559634 kontak person Akh. Muwafik Saleh, alamat Vila Bukit Tidar A4 / 286 Malang. segera dapatkan pencerahan dan motivasi. hubungi sekarang juga jangan tunda kesempatan emas ini........salam dahsyat dari sang maestro.

Selasa, 16 Februari 2010

Pendidikan dan Manusia Beradab

Pendidikan dan Manusia Beradab PDF Cetak E-mail
Penulis: Adian Husaini       
Jurnal Islamia-Republika (kerjasama INSISTS dan Harian Republika) edisi Kamis (9 Juli 2009), membahas secara panjang lebar tentang konsep pendidikan dan adab dalam ajaran Islam. Pembahasan ini mengangkat kembali salah ajaran yang sangat penting dalam Islam, yaitu masalah adab. Banyak ulama yang sudah membahas masalah adab. Pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, misalnya, dalam kitabnya, Ādabul Ālim wal-Muta’allim, mengutip pendapat Imam al-Syafi’i yang menjelaskan begitu pentingnya kedudukan adab dalam Islam. Bahkan, Sang Imam menyatakan, beliau mengejar adab laksana seorang ibu yang mengejar anak satu-satunya yang hilang.

Lalu, Syaikh Hasyim Asy’ari mengutip pendapat sebagian ulama: ”at-Tawhīdu yūjibul īmāna, faman lā īmāna lahū  lā tawhīda lahū;  wal-īmānu yūjibu al-syarī’ata, faman lā syarī’ata lahū, lā  īmāna lahū wa lā tawhīda lahū; wa al-syarī’atu yūjibu al-adaba, faman lā  ādaba lahū, lā syarī’ata lahū wa lā īmāna lahū wa lā tawhīda lahū.” (Hasyim Asy’ari, Ādabul Ālim wal-Muta’allim, Jombang: Maktabah Turats Islamiy, 1415 H). hal. 11).

Jadi, secara umum, menurut Kyai Hasyim Asy’ari,  Tauhid mewajibkan wujudnya iman. Barangsiapa tidak beriman, maka dia tidak bertauhid; dan iman mewajibkan syariat, maka barangsiapa yang tidak ada syariat padanya, maka dia tidak memiliki iman dan tidak bertauhid; dan syariat mewajibkan adanya adab; maka barangsiapa yang tidak beradab maka (pada hakekatnya) tiada syariat, tiada iman, dan tiada tauhid padanya.

Jadi, betapa pentingnya kedudukan adab dalam ajaran Islam. Lalu, apa sebenarnya konsep adab?  Uraian yang lebih rinci tentang konsep adab dalam Islam disampaikan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, pakar filsafat dan sejarah Melayu. Menurut Prof. Naquib al-Attas, adab adalah “pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan darjat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta.”  Pengenalan adalah ilmu; pengakuan adalah amal. Maka, pengenalan tanpa pengakuan seperti ilmu tanpa amal; dan pengakuan tanpa pengenalan seperti amal tanpa ilmu. ”Keduanya sia-sia karana yang satu mensifatkan keingkaran dan keangkuhan, dan yang satu lagi mensifatkan ketiadasedaran dan kejahilan,” demikian Prof. Naquib al-Attas. (SM Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, (ISTAC, 2001).

Begitu pentingnya masalah adab ini, maka bisa dikatakan, jatuh-bangunnya umat Islam, tergantung sejauh mana mereka dapat memahami dan menerapkan konsep adab ini dalam kehidupan mereka. Manusia yang beradab terhadap orang lain akan paham bagaimana mengenali dan mengakui seseorang sesuai harkat dan martabatnya. Martabat ulama yang shalih beda dengan martabat orang fasik yang durhaka kepada Allah. Jika al-Quran menyebutkan, bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling takwa (QS 49:13), maka seorang yang beradab tidak akan lebih menghormat kepada penguasa yang zalim ketimbang guru ngaji di kampung yang shalih.

Dalam masyarakat yang beradab, seorang penghibur tidak akan lebih dihormati ketimbang pelajar yang memenangkan Olimpiade fisika. Seorang pelacur atau pezina ditempatkan pada tempatnya, yang seharusnya tidak lebih tinggi martabatnya dibandingkan muslimah-muslimah yang shalihah. Itulah adab kepada sesama manusia.

Adab juga terkait dengan ketauhidan, sebab adab kepada Allah mengharuskan seorang manusia tidak menserikatkan Allah dengan yang lain. Tindakan menyamakan al-Khalik dengan makhluk merupakan tindakan yang tidak beradab. Karena itulah, maka dalam al-Quran disebutkan, Allah murka karena Nabi Isa a.s. diangkat derajatnya dengan al-Khalik, padahal dia adalah makhluk. Tauhid adalah konsep dasar bagi pembangunan manusia beradab. Menurut pandangan Islam, masyarakat beradab haruslah meletakkan al-Khalik pada tempat-Nya sebagai al-Khalik, jangan disamakan dengan makhluk. Karena membawa agama Tauhid (bukan agama Kristen), maka Nabi Isa a.s. mengingatkan: ”Dan ingatlah ketika Isa ibn Maryam, wahai anak keturunan Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua, membenarkan apa yang telah ada pada kita, yaitu Taurat dan memberikan kabar gembira (akan datangnya) seorang Rasul yang bernama Ahmad.” (QS 61:6).

Jadi, dalam pandangan Islam, Isa a.s. adalah Nabi, utusan Allah, sebagaimana para nabi sebelumnya. Itulah tindakan yang beradab. Karena Nabi Isa a.s. memang manusia, dan harus kita tempatkan sebagai manusia, bukan sebagai ”sekutu” Allah atau ”setara” dengan Allah. Maka, ketika kaum Kristen mengangkat Isa a.s. sebagai Tuhan atau sama dengan derajat Tuhan, maka Allah murka. Dan kepada utusan-Nya yang terakhir, Muhammad saw, maka dijelaskanlah kemurkaan Allah tersebut sebagaimana disebutkan dalam al-Quran, (yang artinya): ”Dan mereka berkata: Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu (yang mengatakan seperti itu) telah melakukan suatu perkara yang sangat munkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.” (QS 19:88-91).

Itulah adab kepada Allah SWT. Nabi Muhammad saw adalah juga manusia. Tetapi, beliau berbeda dengan manusia lainnya, karena beliau adalah utusan Allah. Sesama manusia saja tidak diperlakukan sama. Seorang presiden dihormati, diberi pengawalan khusus, diberikan gaji yang lebih tinggi dari gaji guru ngaji, dan sering disanjung-sanjung, meskipun kadangkala keliru. Orang berebut untuk menjadi presiden  karena dianggap jika menjadi presiden akan menjadi orang terhormat atau memiliki kekuasaan besar sehingga  dapat melakukan perubahan.

Sebagai konsekuensi adab kepada Allah, maka adab kepada Rasul-Nya,  tentu saja adalah dengan cara menghormati, mencintai, dan menjadikan Sang Nabi saw sebagai suri tauladan kehidupan (uswah hasanah). Maka, benarlah pendapat ulama yang dikutip Kyai Hasyim Asy’ari, jika orang tidak mengakui dan menghormati syariat Nabi Muhammad saw, bagaimana mungkin dia bisa dikatakan mempunyai iman? Sikap yang melecehkan syariat Allah jelas merupakan sikap manusia yang tidak beradab. Maka, sangatlah tidak beradab, sebuah disertasi doktor dan berbagai buku tentang Pluralisme Agama yang menyatakan, bahwa untuk mendapatkan pahala dari Allah, tidaklah perlu mengakui kenabian Muhammad saw.

Setelah beradab kepada Nabi Muhammad saw, maka adab berikutnya adalah adab kepada ulama. Ulama adalah pewaris nabi. Maka, kewajiban kaum Muslim adalah mengenai, siapa ulama yang benar-benar menjalankan amanah risalah, dan siapa ulama ”palsu” atau ”ulama jahat (ulama su’). Ulama jahat harus dijauhi, sedangkan ulama yang baik harus dijadikan panutan dan dihormati sebagai ulama. Mereka tidak lebih rendah martabatnya dibandingkan dengan para umara. Maka, sangatlah keliru jika seorang ulama merasa lebih rendah martabatnya dibandingkan dengan penguasa. Adab adalah kemampuan dan kemauan untuk mengenali segala sesuatu sesuai dengan martabatnya. Ulama harusnya dihormati karena ilmunya dan ketakwaannya, bukan karena kepintaran bicara, kepandaian menghibur, dan banyaknya pengikut. Maka, manusia beradab dalam pandangan Islam adalah yang mampu mengenali siapa ulama pewaris nabi dan siapa ulama yang palsu sehingga dia bisa meletakkan ulama sejati pada tempatnya sebagai tempat rujukan.

Syekh Wan Ahmad al Fathani dari Pattani, Thailand Selatan, (1856-1908), dalam kitabnya Hadiqatul Azhar war Rayahin (Terj. Oleh Wan Shaghir Abdullah), berpesan agar seseorang mempunyai adab, maka ia harus selalu dekat dengan majelis ilmu. Syekh Wan Ahmad  menyatakan: “Jadikan olehmu akan yang sekedudukan engkau itu (majelis) perhimpunan ilmu yang engkau muthalaah akan dia. Supaya mengambil guna engkau daripada segala adab dan hikmah.”

Karena itulah, sudah sepatutnya dunia pendidikan kita sangat menekankan proses ta’dib, sebuah proses pendidikan yang mengarahkan para siswanya menjadi orang-orang yang beradab. Sebab, jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezaliman, kebodohan, dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Karena itu, adab mesti ditanamkan pada seluruh manusia dalam berbagai lapisan, pada murid, guru, pemimpin rumah tangga, pemimpin bisnis, pemimpin masyarakat, dan lainnya. Bagi orang-orang yang memegang institusi, bila tidak terdapat adab, maka akan terjadi kerusakan yang lebih parah. Kata Prof Wan Mohd. Nor Wan Daud, guru besar di Akademi Alam dan Tamadun Melayu Universiti Kebangsaan Malaysia:  ”Gejala penyalahgunaan kuasa, penipuan, pelbagai jenis rasuah, politik uang, pemubaziran, kehilangan keberanian dan keadilan, sikap malas dan ’sambil lewa’, kegagalan pemimpin rumah tangga, dan sebagainya mencerminkan masalah pokok ini.”

Jadi, menurut  Prof. Wan Mohd. Nor,   jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezaliman, kebodohan, dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Manusia dikatakan zalim, jika – misalnya – meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Maka, dengan pemahaman seperti itu, seorang Muslim yang beradab pasti lebih mencintai dan mengidolakan Nabi Muhammad saw ketimbang manusia mana pun. Manusia Muslim yang beradab juga akan menghormati sahabat-sahabat nabi dan keluarganya. Begitu juga seorang muslim yang beradab akan lebih menghormati ulama pewaris nabi, ketimbang penguasa yang zalim.  Salah satu adab penting yang harus dimiliki seorang Muslim adalah adab terhadap ilmu. Seorang yang beradab, haruslah  mengenal derajat ilmu, mana ilmu yang wajib ‘ain (wajib dimiliki oleh setiap muslim) dan mana yang wajib kifayah (wajib dimiliki sebagian Muslim).

Islam memandang kedudukan ilmu sangatlah penting, sebagai jalan mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya. Ilmu juga satu-satunya jalan meraih adab. Orang yang berilmu (ulama) adalah pewaris nabi. Karena itu, dalam Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali mengingatkan, orang yang mencari ilmu dengan niat yang salah, untuk mencari keuntungan duniawi dan pujian manusia, sama saja dengan menghancurkan agama. Dalam kitabnya, Adabul ‘Alim wal-Muta’allim, KH Hasyim Asy’ari juga mengutip hadits Rasulullah saw: “Barangsiapa mencari ilmu bukan karena Allah atau ia mengharapkan selain keridhaan Allah Ta’ala, maka bersiaplah dia mendapatkan tempat di neraka.”              

Ibnul Qayyim al-Jauziyah, murid terkemuka Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, juga menulis sebuah buku berjudul Al-Ilmu.  Beliau mengutip ungkapan Abu Darda’ r.a.  yang menyatakan: “Barangsiapa berpendapat bahwa pergi menuntut ilmu bukan merupakan jihad, sesungguhnya ia kurang akalnya.”  Abu Hatim bin Hibban juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah r.a., yang  pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa masuk ke masjidku ini untuk belajar kebaikan atau untuk mengajarkannya, maka ia laksana orang yang berjihad di jalan Allah.”

Karena begitu mulianya kedudukan ilmu dalam Islam, maka seorang yang beradab tidak akan menyia-nyiakan umurnya untuk menjauhi ilmu, atau mengejar ilmu yang tidak bermanfaat, atau salah niat dalam meraih ilmu. Sebab, akibatnya sangat fatal. Ia tidak akan pernah mengenal Allah, tidak akan pernah meraih kebahagiaan sejati. Lebih fatal lagi, jika manusia yang tidak beradab itu kemudian merasa tahu, padahal dia sebenarnya ia tidak tahu.

Itulah adab. Dunia pendidikan Islam, khususnya, sudah saatnya mengkonsentrasikan diri untuk membentuk manusia-manusia yang beradab. Itu hanya bisa dilakukan jika dunia pendidikan mengajarkan ilmu yang benar secara proporsional. Salah satu mata pelajaran penting  yang harus diajarkan dengan benar, adalah pelajaran sejarah. Dalam berbagai kesempatan tatap muka dengan para guru dan siswa di berbagai lembaga pendidikan Islam, saya masih menjumpai sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan Islam yang belum memiliki buku sejarah tersendiri. Masih banyak siswa sekolah Islam yang memahami bahwa Pangeran Diponegoro berperang semata-mata hanya karena urusan tanah leluhurnya yang dirampas oleh Penjajah Kristen Belanda. Padahal, bukti-bukti sejarah menunjukkan, Pangeran Diponegoro berperang dengan tujuan menegakkan syariat Islam di Tanah Jawa.

Mengutip buku berjudul Gedenkschrift van den Orloog op Java, karya F.V.A. Ridder de Stuers, (Amsterdam: Johannes Müller, 1847), dalam disertasi doktornya di Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rifyal Ka’bah memaparkan penuturan seorang Letnan Kolonel Belanda pada masa Perang Diponegoro (1825-1830), yang menyatakan bahwa tujuan Perang Diponegoro adalah agar hukum Islam berlaku untuk orang Jawa.

Diceritakan dalam buku ini, Belanda mengirim delegasi ke pedalaman Salatiga untuk berunding dengan Pangeran Diponegoro dan para pembantunya. Delegasi yang membawa surat Gubernur Jenderal Hendrik Markus de Kock ini  diterima oleh Kyai Modjo, Ali Basa, dan lain-lain. Belanda meminta peperangan  segera dihentikan, agar tidak jatuh korban lebih banyak lagi. Kyai Modjo menjawab bahwa perang tidak dapat dihentikan selama tuntutan mereka belum terpenuhi. Dalam perundingan itu, pihak Diponegoro juga menggunakan ungkapan “Laa mauta illaa bil-ajal” (Tidak ajal berpantang mati). Kyai Modjo juga menyebutkan QS an-Naml:27 yang merupakan ucapan Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis, (yang artinya): “Jangan kalian bersikap arogan terhadapku dan datanglah kepadaku dengan menyerahkan diri.”  Ketika ditanya, apa maksud ungkapan itu, Kyai Modjo menjawab: “Komt gij allen tot mijnen Vorst,  en gaat langs het pad der regtvaardigheit.” (Supaya kalian datang menemui Pangeranku dan berjalanlah melalui jalan keadilan). Kyai Modjo menegaskan, bahwa keinginan Diponegoro adalah agar hukum Islam seluruhnya berlaku untuk orang Jawa. Sedangkan persengketaan antara orang Jawa dan orang Eropa diputuskan berdasarkan hukum Islam dan persengketaan antara orang Eropa dengan orang Eropa, dengan persetujuan Sultan, diputuskan berdasarkan hukum Eropa.  (Lihat, Rifyal Ka’bah, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Universitas Yarsi Jakarta).

Maka, sebenarnya merupakan tindakan yang tidak beradab, memandang pejuang Islam, seperti Pangeran Diponegoro seolah-olah hanya berperang karena urusan tanah leluhurnya. Di buku sejarah SMA bahkan masih ada yang memaparkan bahwa Khalifah Utsman bin Affan adalah pemimpin yang lebih mementingkan keluarganya dibandingkan dengan negaranya. Pemaparan seperti ini sangat tidak sesuai dengan fakta sejarah dan sangat tidak beradab. Karena itulah, para penyelenggara pendidikan Islam harus benar-benar memeriksa materi pelajaran yang diajarkan kepada siswanya. Mereka tidak bisa bersikap tidak peduli dan membiarkan siswa-siswa mereka diajarkan berbagai materi pelajaran yang justru mengarahkan siswanya menjadi manusia-manusia yang tidak beradab. [Solo, 24 Juli 2009/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Kamis, 10 Desember 2009

Busana Kerja

DESAIN BUSANA KERJA DALAM PELAYANAN PUBLIK
Oleh : Akh. Muwafik Saleh

PENDAHULUAN

Dalam pelaksanaan komunikasi pelayanan public salah satu aspek penting yang memberikan pengaruh adalah aspek performance image, salah satunya adalah melalui busana yang dipergunakan. Sebagaimana dalam prinsip komunikasi dipahami bahwa setiap perilaku berpotensi komunikasi. Begitupula dengan busana yang dipergunakan dalam pelaksanaan pelayanan akan menentukan efektifitas pelayanan. Untuk itu kegiatan desain busana adalah langkah awal dalam membangunperformance image tersebut.
Sebagai langkah awal dari proses penciptaan suatu produk, kegiatan mendesain memiliki peranan yang penting karena desain akan menjadi pedoman dalam mewujudkan suatu karya hasil kreativitas. Proses pembuatan desain pada dasarnya merupakan kegiatan mengakses dan mengintegrasikan berbagai input/informasi yang dibutuhkan untuk membuat suatu produk dalam bentuk gambar dua dimensi, seperti halnya pada proses pembuatan desain busana.
Desain busana adalah kumpulan informasi visual tentang suatu busana yang akan dibuat, berkaitan dengan kesempatan penggunaan, siapa penggunanya, berbagai elemen penyusun yang dibutuhkan, teknik pembuatan, hingga pada persoalan pembiayaan hingga pada sistem pemasarannya. Pada jenis busana tertentu seperti pada busana kerja, aspek psikologis dan filosofis dari busana yang akan dibuatpun akan menjadi perhatian. Setiap busana yang akan dibuat sangat memerlukan penjabaran informasi yang akurat, karena pada jenis busana ini eksistensi, kredibilitas dan citra organisasi turut ditentukan.





PENGERTIAN BUSANA KERJA
Berdasarkan studi mengenai pakaian yang menunjukkan jenis pekerjaan, didapat satu kesimpulan bahwa tanda utama untuk mengenal seseorang dalam pekerjaan tertentu adalah simbol atau ciri busananya.
Encyclopedia of World Art memberikan satu definisi tentang pakaian dinas sebagai berikut :
“The division of labour characteristic of our own civilization and our
own concern for function and suitable dress for special costumes. Some
are styled with particular elegance in order to impress the public, as in
case of door man of great store.”

FUNGSI BUSANA KERJA
Secara garis besar busana kerja / pakaian dinas mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Untuk mencapai suatu kesamaan dan untuk mengidentifikasi suatu golongan atau kelompok tertentu.
2. Memberikan suatu pandangan/identitas tertentu pada masyarakat tentang eksisitensi dari suatu organisasi.
3. Dapat menghadirkan stabilitas dan efisiensi.
4. Menghilangkan persaingan dalam cara berbusana antar sesama pegawai.
5. Mencegah cara berbusana yang berlebih-lebihan yang dapat menimbulkan suatu pengaruh yang tidak baik terhadap profesi dan citra organisasi.

PROSES PEMBUATAN DESAIN BUSANA KERJA
Proses perancangan Busana kerja/pakaian dinas merupakan satu kegiatan yang harus dijalani seorang desainer secara komprehensif, yang dimulai dengan menghimpun informasi berkaitan dengan :
1. Pengertian dan eksistensi busana kerja/pakaian dinas
2. visi dan missi perusahaan
3. corporate image
4. job description, serta
5. siklus aktivitas pekerjaannya.

Selanjutnya input-input tersebut dijabarkan dalam bentuk desain yang representatif dalam menunjang aktivitas kerja serta citra organisasi. Pakaian dinas berbeda dengan pakaian sehari-hari yang dapat menerapkan berbagai model dan elemen sesuai selera dan keinginan penggunanya, karena pakaian dinas lebih dekat hubungannya dengan fungsi dan tujuan penggunaan dari busana tersebut dalam kaitannya dengan sistem yang berlaku pada suatu instansi/lembaga/perusahaan.

LANGKAH DALAM MENDESAIN BUSANA KERJA PELAYANAN PUBLIK

Seragam atau busana petugas pelayaan, secara fungsional harus memiliki kaitan yang erat dengan tugas-tugas yang diemban, yaitu tugas-tugas yang dilakukan berkaitan dengan aspek mobilitas yang tinggi, memudahkan dalam proses pemberian pelayaan serta harus merefleksikan citra perusahaan. Dalam kaitannya dengan fungsi busana sebagai alat untuk menyampaikan diri atau pengungkapan diri seseorang, maka pada seragam petugas pelayanan, selain harus terlihat indah secara visual, juga harus dapat membantu dalam memberikan kesan yang baik terhadap pemakainya, terutama berkaitan dengan layanan prima yang diberikan.
Kondisi lain dari pakaian dinas/seragam adalah sebagai salah satu identitas perusahaan, yang diharapkan dapat memberikan kesan tertentu sesuai dengan visi dan missi perusahaan. Kesan yang ingin ditampilkan dari petugas organisasi pelayanan adalah mencerminkan kesan bersahabat, akrab, profesional dan dapat memberikan layanan prima pada para pelanggannya.
Maka desain model pakaian atau busana dinas petugas pelayanan harus dibuat sedemikian rupa agar dapat menunjang pelaksanaan mekanisme pekerjan petugas pelayanan, sehingga mobilitas kerjanya dapat berjalan dengan baik. Selain dari itu detail model yang dibuat harus harus dapat memberikan makna dan citra yang diharapkan dari penyelenggaraan pelayanan. Langkah dalam mendesain busana kerja yaitu :
1. Tahap pertama dari proses pembuatan desain busana kerja/pakaian dinas tersebut adalah dengan membuat sketsa desain (Design Sketching) . Design Sketching yaitu suatu desain yang digunakan untuk mengembangkan ide-ide yang ada dalam fikiran, dan dituangkan secara spontan pada media kertas dengan secepat mungkin. Konsep/detail model busana harus ditampilkan sejelas mungkin, namun detail anatomi tubuh yang tidak berpengaruh dalam mendukung penampilan gambar desain seperti tangan, kaki dan wajah, tidak perlu digambar.

Gambar : Contoh Sketsa Desain Model 1 Busana Kerja/Pakaian Dinas
Pramugara dan Pramugari Kereta Api

Gambar : Contoh Sketsa Desain Model 2 Busana Kerja/Pakaian Dinas Pramugara dan Pramugari Kereta Api

2. Proses selanjutnya dari rangkaian kegiatan pembuatan busana kerja / pakaian dinas petugas pelayanan adalah pembuatan Desain Presentasi (Presentation Drawing) yaitu suatu kegiatan mempresentasikan desain harus merupakan gabungan antara pengetahuan teknik yang meliputi sistematika desain, berbagai perhitungan dan analisis berkaitan deng an struktur, material, harga serta elemen estetika dengan teknik pemaparan dalam bentuk visualisasi gambar desain, yaitu melalui desain presentasi (presentation drawing) . Presentation Drawing adalah adalah desain model busana yang digambar selengkap dan sesempurna mungkin dengan mencantumkan berbagai aspek yang dapat mendukung performance desain secara keseluruhan. Penyajiannya dilengkapi dengan uraian tentang detail model, penggunaan bahan dasar dan bahan pelengkap, jenis busana dan informasi lain yang mendukung.
Langkah awal dari pembuatan Desain Presentasi busana kerja/pakaian dinas petugas pelayanan adalah dengan menghimpun informasi dari berbagai referensi berkaitan dengan :
• Penggunaan elemen tekstil dan elemen penunjang lainnya yang dapat mendukung tujuan pembuatan pakaian dinas petugas pelayanan sebagaimana telah dirumuskan terdahulu.
• Penerapan warna yang dapat mendukung penampilan fisik dan psikhis busana kerja/pakaian dinas petugas pelayanan secara keseluruhan.
• Teknik jahit yang sesuai dan menunjang penampilan busana kerja/ pakaian dinas tersebut secara keseluruhan
 
gambar :
Contoh Desain Presentasi Busana Kerja/Pakaian Dinas untuk Pramugara Kereta Api Model 1
gambar :
Contoh Desain Presentasi Busana Kerja/Pakaian Dinas untuk Pramugari Kereta Api Model 1

 3. Tindak lanjut dari kegiatan presentasi desain adalah membuat perencanaan produksi dari busana-busana yang telah disepakati untuk diproduksi. Dalam mengantisipasi berbagai kegiatan pada proses produksi, maka diperlukan suatu media yang dapat memberikan berbagai kemudahan dalam menentukan kinerja produksi secara efektif, efisien dan ekonomis, yang salah satunya adalah Desain Produksi (Production Sketching). Production Sketching merupakan gambar desain busana yang digunakan sebagai pedoman dalam proses produksi pada sebuah industri busana. Pembuatan gambar ini diproyeksikan sebesar-besarnya untuk mengakomodasi sistem kerja industri yang kompleks dengan kapasitas/volume produksi yang besar, untuk menstandarisasi produk pada kisaran standar mutu tertentu sesuai dengan keinginan/pesanan konsumen. Gambar production sketching yang lengkap akan memuat semua detail model busana beserta keterangan-keterangan yang mendukung, sehingga mudah difahami oleh seluruh team produksi seperti bagian pola, sampel, potong, jahit, finishing, supervisor dan follow up (Merchandiser). Gambar Production sketching harus dilengkapi dengan production sheet/worksheet, yaitu lembar kerja yang menguraikan semua keterangan yang diperlukan dalam proses pembuatan produk busana. Pembuatan Desain Produksi (Production Sketching) busana kerja/pakaian dinas petugas pelayanan harus diakomodasi oleh pengetahuan, wawasan dan pemahaman desainer tentang :
• Teknik jahit dalam sistem produksi massal
• Konsep dan teknik pembuatan pola (pattern making)
• Sistem pembuatan sampel (sample making)
• Sistem instalasi jaringan kerja produksi massal

 
Gambar :
Contoh Desain Produksi Busana Kerja/Pakaian Dinas
Pramugara Kereta Api Model 1

Gambar Production Sketching


Gambar :
Contoh Desain Produksi Busana Kerja/Pakaian Dinas
Pramugari Kereta Api Model 1

Gambar Production Sketching


gambar :
Contoh Desain Produksi Busana Kerja/Pakaian Dinas
Pramugara Kereta Api Model 2

Gambar Production Sketching

Gambar :
Contoh Desain Produksi Busana Kerja/Pakaian Dinas
Pramugari Kereta Api Model 2

Gambar Production Sketching

Tidak dapat dipungkiri bahwa busana kerja merupakan salah satu aspek penting dalam pelaksanaan komunikasi pelayanan ublik. Busana menjadi media yang menjelaskan identitas suatu lembaga pelayanan termasuk bentuk apresiasi dalam memberikan pelayanan terhadap public dengan haapan public yang dilayani memberikan respond an mempersepsi secara positif para petugas sehingga pelayanan yang diberikan dapat berjalan dengan baik. Begitu pula busana akan mendorong terbangunnya citra lembaga pelayanan dimata public sebagai sebuah lembaga yang professional yang responsive dan dekat dengan public yang dilayananinya.

Rabu, 25 November 2009

Khotbah Idul Adha 1430 H


BELAJAR CERDAS EMOSI DAN SPIRITUAL DARI KISAH IBRAHIM

Oleh : Akh. Muwafik Saleh, S.Sos. M.Si.


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillaahilhamdu

Maasyiral muslimin hafidhakumullah

Idul adha adalah hari perwujudan cinta kita kepada Allah, melalui semangat pengorbanan dan saling berbagi, dengan banyak mengambil pelajaran dari perjalanan hidup nabiyallah Ibrahim. Idul Adha juga merupakan hari perwujudan totalitas pengabdian kepada Allah melalui aktivitas ibadah haji yang sekarang sedang dilaksanakan oleh saudara-saudara kita di kota suci Makkah, di Arafah. Dua peristiwa penting inilah sesungguhnya yang menjadi pijakan sejarah dalam pelaksanaan Idul Adha ini, yang setiap kita diharapkan secara cerdas dapat mengambil pelajaran terbaik dari keduanya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillaahilhamdu

Maasyiral muslimin hafidhakumullah

Marilah kita belajar bersama dari dua peristiwa penting tersebut. Pertama, marilah kita belajar dari Ibrahim. Kita mengenal nabi Ibrahim sebagai bapak agama-agama monoteisme (abu al ad-yaan / the father of monotheism), guru kehidupan. Karena Dari nabi Ibrahim banyak lahir kaum termasuk kaum yahudi dan dari beliau pula lahir para nabi baik nabi Isa yang darinya merujuk agama Nasrani dan nabi kita Muhammad saw yang merujuk padanya agama Islam. Dari nabi Ibrahim kita bisa banyak belajar tentang kehidupan. Nabi Ibrahim telah mengajarkan kepada kita arti sebuah semangat untuk mencari kebenaran.. Hal ini tampak disaat beliau masih remaja, disaat kegelapan malam dan menginginkan menemukan kebenaran sejati tentang siapa sesungguhnya yang mencipta kehidupan ini yang nantinya kepadanya seluruh umat manusia harus menyembah dan mengagungkannya. Ibrahim mengajarkan kepada kita untuk meneliti realitas kehidupan ini, belajar dari alam semesta, belajar dari sekitar kita untuk dapat menemukan Allah. Beliau berani melakukan dialog internal dengan dirinya, seraya mempertanyakan siapakah yang layak disembah, diagungkan dan dipertuhankan : bintangkah, bulankah atau mataharikah (Q.S. Al An’am 6: 75-79), baginya segala yang dia lihat dalam kehidupan itu sangat mungkin diagung-agungkan, disembah dan dipertuhankan oleh umat manusia setelahnya. Bisa jadi manusia mempertuhankan harta, kekayaan dan segala perhiasan dunia yang disimbolkan oleh bintang yang bertaburan yang indah dilihat oleh mata. Atau mungkin juga bisa jadi manusia mempertuhankan wanita, kecantikan, ketampanan dan berbagai asesoris penampilan fisik lainnya yang disimbolkan oleh bulan sebagaimana kita selalu mengasosiasikan paras cantik seorang wanita dengan bulan. Atau mungkin bisa jadi manusia juga mempertuhankan  jabatan dan kekuasaan sebagaimana yang disimbolkan oleh matahari. Namun semuanya itu ditolak oleh Ibrahim karena menurutnya semua itu bersifat fana, sementara dan mudah hilang, tidak kekal. Baginya yang layak untuk disembah, diagungkan dan dipertuhankan dalam kehidupan inilah adalah dzat yang harus kekal dan itulah Allah Yang Maha Mencipta segalanya.


2






3

Lalu coba perhatikan pada diri kita, bagaimana sikap kita selama ini dalam kehidupan, apa yang kita sembah sesungguhnya ?. Untuk mengetahui apa yang kita sembah sesungguhnya sangat mudah mendeteksinya. Yaitu dari apa yang menjadi motivasi diri kita selama ini dalam kehidupan. Karena motivasi seseorang, akan menjadikannya mengagungkan wujud motivasi itu. Sedang sikap pengagungan itu adalah dasar dari perilaku menyembah yang sesungguhnya. Untuk itu apa yang menjadi motivasi terbesar kita bekerja selama ini. Allah-kah, atau harta, keluarga, jabatan, prestise diri, pendidikan atau uang atau yang lainnya? Cukuplah semua ini kita renungkan dan kita jawab sendiri-sendiri dalam hati kita secara jujur. Lalu bertaubatlah pada Allah sekiranya ternyata bukan Allah yang menjadi motivasi kita. Karena sesungguhnya kita tidak menyembah Allah secara ikhlas dan sungguh-sungguh, karena bisa jadi penyembahan yang kita lakukan selama ini adalah dipenuhi dengan segala kepalsuan. Bertaubatlah dan kembalilah pada Allah, wahai kaum muslimin, karena Allah Maha Penerima Taubat.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu


Dari Ibrahim kita juga belajar tentang tanggung jawab keluarga dan sosial. Lihatlah bagaimana nabiyallah Ibrahim ini memiliki kepedulian yang tinggi terhadap berbagai kemungkaran yang ada disekitarnya dan beliau dengan terbuka serta gagah berani untuk menolaknya dengan cara yang sangat cerdas. Lihatlah apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim saat melihat berhala dipertuhankan oleh ummatnya. Naluri ketuhannya menggelora untuk mengatakan kebenaran. Disinilah muncul rasa tanggung jawab yang tinggi dalam dirinya untuk menyelamatkan keluarga dan lingkungannya. Dia katakan kebenaran kepada bapaknya dengan cara yang halus karena telah memproduksi berhala walaupun bapaknya akhirnya juga menolaknya. Namun dia tetap mendoakan agar Allah menyadarkan dan mengampuninya. Sebagaimana diabadikan oleh Allah dalam Al Quran :





“Dia (Ibrahim) berkata (kepada bapaknya) : “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku”. (Q.S. Maryam 19 : 47)



4

Lalu sekarang cobalah kita lihat pada diri kita masing-masing. Bagaimana sikap kita disaat dihadapan terdapat kemungkaran baik dirumah kita, di kantor, atau di lingkungan masyarakat. Apakah kita mendiamkannya atau meluruskannya ? lalu bagaimana dengan istri kita, anak-anak kita, orang tua kita. Masihkan mereka berbuat maksiat pada Allah dan masihkah kita mendiamkannya ? tidakkah kita sadar bahwa sesungguhnya semua itu adalah tanggung jawab diri kita, khususnya wahai para suami. Allah berfirman :


“Wahai orang-orang yang beriman. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu....”(Q.S. At Tahrim 66 :6)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu




5

Ibrahim juga mengajarkan akan makna  keberanian untuk mengatakan kebenaran dihadapan penguasa yang dhalim dengan sangat cerdas melalui dialog-dialog yang rasional. Lihatlah bagaimana Ibrahim disaat menghancurkan berhala-berhala itu dan menggantungkan kapaknya dileher berhala yang sangat besar. Dan saat dinterogasi oleh penguasa, apa yang dikatakan oleh Ibrahim, perhatikan kalimat cerdas ini, Ibrahim berkata : “kalau engkau tahu berhala itu tidak bisa melakukan apa-apa, lalu mengapa engkau masih menyembahnya ?”. lalu coba lah kita renungkan bagaimana sikap kita terhadap berhala-berhala kehidupan disekitar kita ?. disaat berhala jabatan dan kekuasaan disembah, berhala harta benda diagungkan yang menjadikan diri kita sombong, meremehkan dan merendahkan orang lain. Wahai kaum muslimin, dapatkah jabatan, kekuasaan, dan harta kita menolong kita atas berbagai pertanyaan Allah disaat yaumul hisab nanti. Oleh karena itu jangan sia-siakan kesempatan untuk mengabdi pada Allah melalui jabatan, kekuasaan dan harta yang sekarang kita miliki. Jadikan semuanya menjadi sarana mendekatkan diri pada Allah. Pergunakanlah jabatan, kekuasaan dan harta untuk mengajak diri kita dan orang lain lebih dekat pada Allah, lebih giat beribadah dan mampu meninggikan agama Allah ini. Inilah sesungguhnya konsep aji mumpung yang benar.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu


Dari Ibrahim kita juga bisa belajar kesetiaan dan keagungan cinta. Cinta kepada Allah yang mengalahkan segalanya bahkan kecintaanya terhadap anaknya sendiri. Perhatikan bagaimana Ibrahim dengan segala ketulusan  pengorbanan mempersembahkan hewan qurban yang terbaik kepada Allah setiap tahunnya dengan jumlah yang sangat besar semata-mata hanyalah untuk beribadah dan mengabdi sebagai wujud rasa cintanya yang tulus kepada Allah karena Allah telah memberinya kehidupan dan penghidupan, rezeki dan kenikmatan, kesehatan dan kesempatan.

Cobalah kita bayangkan sekarang, betapa kenikmatan yang Allah berikan tiada tara kepada kita, mata masih bisa melihat, telinga masih bisa mendengar, mulut masih bisa berucap, tangan masih dapat digerakkan, kaki masih dapat melangkah, dan lebih-lebih hidung masih dapat menghirup udaraNya (oksigen) dengan mudah tanpa alat bantu dan tanpa biaya. Tidakkah kita sadar, bagaimana disaat Allah dengan serta merta mencabutnya dan menghilangkan satu dari sekian kenikmatanNya itu, sehingga tidakkah layak bagi kita untuk bersyukur, lalu nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ? (fabiayyi alaa-I rabbikuma tukadzdzibaan). Dan itupulalah yang dilakukan oleh Rasulullah sang kekasih Allah dengan ibadahnya hingga kakinya bengkak semata-mata hanya untuk membuktikan kecintaannya yang mendalam dan rasa syukurnya tinggi kepada Allah sang maha Pemberi (Al Wahhab). Namun kecintaan tetaplah harus diuji. Apakah benar-benar memiliki cinta sejati atau cinta dengan segala kepalsuan ?. (kembali pada kisah Ibrahim) Untuk itu Allah menguji dengan suatu perintah yang menurut akal sehat tidaklah mungkin akan dilakukan oleh siapapun, lebih-lebih oleh orang tua yang memang semenjak lama mendambakan memiliki seorang anak dan Allah mengabulkannya melalui rahim seorang budak mulia yang bernama siti hajar. Dan disaat usia sang anak benar-benar membuatnya sayang. Allah mengujinya dengan memintanya untuk membunuh anaknya yang sangat dicintainya semata-mata untuk menguji kecintaanya pada Allah. Seakan Allah ingin mengatakan pada Ibrahim : wahai Ibrahim mana lebih yang kamu cintai, Aku (kata Allah) atau anakmu. Inilah ujian kecintaan dan keimanan yang sesungguhnya. Allah berfirman :


8


8


6






“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji ?” (QS Al Ankabut 29 : 2 )

Cobalah kita bayangkan sekiranya apa yang dialami Nabiyallah Ibrahim, diujikan pada diri kita. Disaat kita sangat mendambakan sesuatu (apakah itu anak dan keluarga, harta berupa mobil atau rumah, kekuasaan, jabatan dan sebagainya) dan pada saat kecintaan itu sedang memuncak, seketika itupula Allah mengujinya. Apakah dalam bentuk menambah nikmat yang diberikan atau sebaliknya Allah memintanya kembali dan mencabutnya. Lalu kiranya bagaimana sikap kita ? apakah tambah dekat pada Allah dan segera memenuhi perintahnya atau malah menyombongkan diri dan menjauh dari-Nya ? siapa yang akan kita pilih untuk kita dahulukan kebutuhannya ? siapa yang lebih kita cintai ? bagaimana sikap kita saat semuanya dicabut, menerima dengan ikhlas atau sebaliknya ?



7

Ikhwah fillah, ketahuilah Nabiyallah Ibrahim disaat menghadapi ujian yang sangat berat tersebut, walaupun secara manusiawi dia bimbang dan berat, namun kebimbangannya itu mampu dikalahkannya dengan semangat pengabdian dan keimanan yang luar biasa yang semata-mata hanyalah ingin menunjukkan rasa cintanya yang begitu mendalam kepada Allah. Dia lebih memilih memenuhi perintah Allah dari pada kepentingannya sendiri. Dengan semangat pengabdian itulah, Allah subhanahu wataala menurunkan hidayah dan pertolongannya.

Ikhwah fillah, Inilah kiranya pelajaran yang sangat berharga dari kisah pengabdian Ibrahim yang selalu kita peringati setiap idul adha ini, bahwa apabila kita menginginkan hidayah dan pertolongan dari Allah atas segala cobbaan dan persoalan kehidupan kita, baik persoalan personal, sosial ataupun bangsa ini, maka belajarlah pada Ibrahim, yaitu dengan terus tunjukkan cinta sejati pada Allah dengan tidak menduakannya seraya terus mengabdi, berkorban, mendahulukan kepentingan Allah, memenuhi perintahNya dan terus mendekatkan diri kepadaNya, jadikan aturan dan hukum-hukum Allah sebagai cara untuk mengatur hidup kita, baik dalam keluarga, masyarakat maupun bernegara. Karena aturan-aturan itu dibuat demi kebaikan ummat manusia, tidak hanya untuk pribadinya saja tapi juga untuk keberlangsungan hidup bermasyarakat dan bernegara. Jika kita menyerahkan dengan sepenuh hati segala urusan itu pada Allah, tentulah pintu jalan keluar akan terbuka lebar, karena itulah janji Allah :


 



11

“ ......... Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya (pasti) Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.  Sesungguhnya Allah (pasti) melaksanakan (memenuhi) urusan (janji) Nya.” (Q.S. At Thalaq 65 : 2).



“..... Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam segala urusannya”. (Q.S At Thalaq 65 : 3)



8

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu


Dari kisah sejarah Ibrahim kita juga bisa belajar tentang istri solehah. Lihatlah Sarah dan Hajar. Dua wanita terbaik dalam sejarah dan termasuk dari wanita-wanita yang dimuliakan oleh Allah. Sarah, istri nabiyallah Ismail pertama, adalah tipologi seorang wanita sekaligus istri solehah, ia adalah istri yang tenang menghadapi cobaan baik yang tertimpa atas dirinya (mandul) maupun atas suaminya (ujian di jalan dakwah). Dia juga penuh tawakkal pada Allah, pintar dan memahami resiko yang dihadapi. Begitu pula Hajar, wanita kedua yang dinikahinya karena Sarah mandul. Hajar adalah tipologi wanita dan istri solehah yang penuh tawakkal pada Allah dan penuh kearifan bersikap serta memiliki semangat yang tinggi untuk mengabdi pada Allah dan suaminya. Perhatikanlah hadist Rasulullah yang menjelaskan kisah Ibrahim dan Hajar ini.



9

Ibnu Abbas berkata : wanita pertama yang memakai ikat pinggang adalah Hajar ibu Ismail. Dia memakai ikat pinggang untuk menutupi tanda hamilnya dihadapan Sarah. Kemudian Ibrahim membawa Hajar dan Ismail – ketika itu Hajar sedang menyusukan Ismail—lalu menempatkannya disamping baitullah dekat pohon besar diatas zam-zam dan bagian atas masjid. Ketika itu belum ada seorang pun tinggal di Makkah juga tidak ada air. dIsanalah Ibrahim menempatkan mereka. Ibrahim meletakkan disamping mereka satu kantung korma dan satu tong air. Kemudian Ibrahim pulang lagi ke Syam —tempat dimana dulu dia dengan sarah dan hajar tinggal untuk berdakwah – Ibu Ismail segera membuntuti Ibrahim suaminya dan berkata : “hai Ibrahim hendak pergi kemana engkau ? dan Kau tinggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia dan apa-apanya ini”. Hajar menyampaikan pertanyaan itu kepada Ibrahim berulang kali, sementara Ibrahim tidak menoleh kepadanya sama sekali. Lalu Hajar bertanya lagi : “Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk melakukan perbuatan ini ?”, Ibrahim menjawab : “ya”. Lalu Hajar berkata : “kalau demikian halnya, tentu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”. Kemudian Hajar kembali (ke Baitullah). Menurut satu riwayat Bukhari (disebutkan) : “wahai Ibrahim, kepada siapa engkau tinggalkan kami”. Ibrahim menjawab : “kepada Allah”. Hajar berkata : “aku pasrah kepada Allah”.
Cobalah kita perhatikan dialog tersebut, selanjutnya cobalah kita renungkan dalam diri kita (khususnya para istri) bagaimana sikap ketawakkalan pada Allah atas rezeqi yang Allah berikan melalui suami kita, bagaimana ketawakkalan kita terhadap berbagai persoalan yang sedang diujikan oleh Allah pada keluarga kita, bagaimana sikap kita untuk saling dukung mendukung dalam ibadah kepada Allah ?
Dalam lanjutan hadist dikisahkan, bagaimana Hajar dengan kesendiriannya berusaha keras untuk menemukan air untuk anaknya Ismail, sehingga harus lari dari Shafa ke Marwa (dalam riwayat disebutkan 7 kali) dan inilah yang akhirnya ditiru oleh para jamaah haji saat menunaikan ibadah sa’i. Sehingga sesungguhnya ibadah haji tidaklah hanya sekedar ibadah ritual belaka (apalagi ibadah untuk prestise diri, naudzu billah) melainkan dalam ibadah haji manusia diajak belajar banyak dari Ibrahim dan keluarganya (istri-istri dan anak-anaknya). Tentang bagaimana dia menjadi seorang suami teladan, istri solehah dan anak yang soleh.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu


Dari kisah sejarah Ibrahim kita juga bisa belajar tentang anak soleh. Lihatlah Ismail, seorang anak muda belia yang cerdas emosi dan spiritual. Disaat datang perintah Allah kepada bapaknya untuk membunuh dirinya, ia (ismail) tidak menolaknya, bahkan mendukung dan memotivasi sang bapak, karena ia (ismail) tahu bahwa perintah yang sampai kepada sang bapak adalah perintah dari Allah sang pencipta kehidupan, yang berarti memenuhi perintah Allah adalah ibadah dan mendukung terlaksananya perintah juga bermakna ibadah. Perhatikan apa yang dikatakan pemuda Ismail kepada Ibrahim :


10





“..... Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”. (Q.S. As Shoffat 37 : 102)




15



15

Inilah Ismail, dia adalah contoh teladan bagi setiap pemuda, buat semua anak. Dialah contoh anak soleh yang sejati. Dia mampu menjadi pendukung kebenaran dan kebaikan bagi orang tuanya, ia ingin agar orang tuanya menjadi orang yang dapat tunduk dan patuh pada Allah, sehingga dia mempersembahkan yang terbaik bagi orang tuanya dalam rangka ibadah kepada Allah. Kesolehan Ismail sebagai anak, bukanlah lahir serta merta dengan sendirinya. Tetapi merupakan hasil proses pendidikan terbaik yang terinternalisasi dalam dirinya melalui pendidikan dan pengalaman langsung yang dicontohkan oleh orang tuanya dan lingkungannya, Ibrahim. Melalui contoh-contoh nyata sang Bapak dan Ibu yang tekun, taat ibadah, penuh kecintaan dan pengabdian pada Allah serta berharap semata hanya pada Allah, sayang dan hormat pada orang tua, memiliki kepekaan dan kepedulian yang tinggi terhadap kehidupan melalui penegakan amar ma’ruf nahi mungkar,. Sikap-sikap itulah yang akhirnya dicontoh oleh sang anak, Ismail.



11

Ikhwah fillah, belajar dari Ibrahim, sekiranya kita semua menginginkan sebuah generasi terbaik, soleh dan solehah, qurrota a’yunin, maka tentu tidaklah cukup hanya mengajarinya dengan kata-kata, apalagi hanya mendidiknya dengan materi, melainkan harus dengan contoh-contoh dan keteladanan yang nyata dari orang tua. Sebuah ungkapan menyatakan’ buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’ bahkan ada pula yang mengatakan, ‘jika ingin tahu bagaimana karakter seorang anak, lihat dan pelajarilah tingkah laku orang tuanya dan dengan siapa ia dibesarkan dalam lingkungannya’ untuk itu setiap orang tua wajib memberikan perhatian dan perlindungan kepada anak-anaknya atas intervensi lingkungan yang mendegrasi moral, mengingat betapa banyak peristiwa kehidupan ternyata sangat berpotensi bagi rusaknya moralitas generasi muda kita. Lihatlah beberapa waktu ini bagaimana pergaulan bebas begitu mudahnya kita lihat persis dihadapan mata kita, bahkan alat-alat dan sarana pergaulan bebas diperjualbelikan dengan mudah dan murahnya tanpa pengawasan yang ketat apalagi dengan adanya ATM Kondom dengan alasan untuk mengurangi jumlah penderita Aids akibat perilaku seks yang tidak aman namun tidak memperdulikan penyakit sosial lainnya berupa maraknya perzinahan yang dianggapnya “aman” padahal inilah sesungguhnya pengundang adzab Allah. Kasus malam tahun baru beberapa waktu yang lalu sebagaimana yang diberitakan dalam liputan TV 7 membuktikan betapa pada malam tahun baru ditemukan penjualan kondom dibeberapa tempat khususnya di kota-kota besar seperti jakarta dan jogjakarta meningkat pesat dan lebih mengagetkan lagi ternyata pembelinya kebanyakan adalah dari kalangan anak muda. Jangan-jangan berbagai musibah dan adzab yang tidak pernah hentinya mendera bangsa ini mulai dari flu burung, peristiwa tsunami satu tahun yang lalu, serta beberapa peristiwa kemanusiaan dan bencana alam akhir-akhir ini berupa tanah longsor, banjir di beberapa daerah seperti di jalur pantura atau banjir bandang di jember dan di Banjarnegara Jawa tengah yang menelan banyak korban adalah akibat permisifnya diri kita dan bangsa ini terhadap berbagai bentuk kemungkaran dan membiarkan berbagai bentuk kemungkaran tetap berlangsung, misalnya seperti penggundulan hutan, illegal loging, pembangunan yang tidak memperhatikan AMDAL, kepedulian yang rendah terhadap kebersihan lingkungan dsb, yang bisa jadi kesemuanya berkontribusi mengundang datangnya adzab Allah tersebut.

Untuk itu langkah awal yang harus kita lakukan adalah dengan menjaga diri kita, keluarga kita masing-masing, lingkungan masyarakat sekitar kita, dan bangsa ini dari segala bentuk perilaku yang dapat menghancurkan masa depan generasi dan kehidupan. Kiranya kita memang perlu banyak belajar dari Ibrahim. Yaitu sebagai orang tua dan sekaligus pemimpin yang mampu melahirkan generasi dan keturunan terbaik sepanjang sejarah dan peduli terhadap masa depan kehidupan. Yang darinya pula Junjungan kita Muhammad Rasulullah bertemu nasabnya melalui garis nasab Ismail.


12


x    



Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillaahilhamdu.

Ma’asyiral muslimin hafidha kumullah



13

Dalam idul adha ini kita semua juga dapat belajar dari aktivitas ibadah haji yang sekarang sedang dilaksanakan oleh saudara-saudara kita jamaah haji di tanah suci baitullah. Ibadah haji sebagai risalah nabiyallah Ibrahim yang dilanjutkan oleh Rasulullah saw, mengandung banyak pelajaran yang sangat berharga yang dapat kita jadikan pelajaran. Ibadah haji tidaklah sebatas aktivitas ritual belaka, apalagi prestise diri lebih-lebih politis, tapi ibadah haji adalah aktivitas yang menggambarkan totalitas ibadah serta puncak segala pengabdian kita kepada Allah. Dalam ibadah haji tersebut kita belajar akan makna kebersihan dan kesucian diri yang disimbolkan dengan pakaian putih ihram, kesamaan derajat yang tidak membeda-bedakan status, jabatan, harta dan sebagainya, semuanya sama dihadapan Allah yang membedakan hanyalah ketaqwaannya semata yang disimbolkan saat sedang wukuf di Arofah. Dalam ibadah haji kita juga belajar tentang semangat untuk menolak segala bentuk kemungkaran (baik personal maupun sosial) yang disimbolkan dengan lemparan jumroh, dan semangat untuk berbagai yang disimbolkan dengan memotong hewan qurban serta semangat untuk menetapkan komitmen perubahan dan komitmen pada kebaikan ibadah yang kesemuanya berpusat pada satu tujuan yaitu Allah, yang disimbolkan dengan thawaf (wada’). Disaat kesemua pelajaran hikmah haji ini dapat terus dipertahankan dalam kehidupan (khususnya bagi para hujjaj/ jamaah haji) hingga kehidupan keseharian nantinya, tentulah gelar Mabrur akan diperoleh. Yaitu seorang yang merdeka, bebas dari keterikatan godaan hawa nafsu, dan menjadikan dirinya dipenuhi dengan segala kebaikan dan kebersihan diri, yang akan menjadi modal utama dia untuk menghadap Allah swt. Sebagaimana Firman Allah :





“(yaitu) pada hari (ketika) harta benda, dan anak-anak sudah tidak berguna lagi kecuali orang-orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Q.S. Asy Syu’ara 26 : 88-89)

Akhirnya, semoga Allah swt menjadikan diri kita, keluarga kita dan lingkungan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang mulia disisi-Nya. Serta memanggil diri-diri kita dengan panggilan rahmat-Nya. Dan mengumpulkannya dalam golongan orang-orang yang diberi rahmat. Amien Ya Rabbal alamien.



“Wahai jiwa yang tenang . kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu. Dan masuklah  ke dalam surgaKu”. (Q.S. Al Fajr 89 : 27-30)

Allahu Akbar-Alahu Akbar, Allahu Akbar laa ilaaha illallaahu Allahu Akbar. Allahu akbar walillaahilhamdu.
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuhu




Akh. Muwafik Saleh, S.Sos., M.Si