Jumat, 24 Desember 2010

Ma'rifatul Islam

Islam adalah agama yang lurus, tinggi dan tak ada yang mampu mengalahkan ketinggian serta keagungan nilai-nilai islam. keagungan itu terpancar melalui al quran, kitab suci yang yang agung yang dibawa oleh nabi yang agung pula, Nabi Muhammad SAW. Allah yang Maha besar telah menurunkan agama ini melalui nabi yang agung, dengan kita yang agung untuk umat yang agung pula. inilah agama yang sempurna dan tersempurnakan.
Bagi para peserta pelatihan yang menginginkan materi power point presentasi dapat mendownloadnya di slideshare dengan nama file : ma'rifatul islam muwafik ub 2010

Rabu, 15 Desember 2010

BEKERJA DENGAN HATI NURANI

SINOPSIS BUKU
BEKERJA DENGAN HATI NURANI
Karya : Akh. Muwafik Saleh


Dalam tuntutan pekerjaan yang berat, orang sering mengalami stress. Meski target kerja terpenuhi pun, seseorang masih merasa terkekang.,tidak nyaman berada di kantor ataupun malah menggerutu terhadap situasi kerja. Apa penyebabnya?. Banyak orang kesepian setelah bekerja. Mencari pelarian, menggeluti hura-hura hedonis yang mahal. Pergi ke kafe, mall, diskotik atau menenangkan diri di vila. Namun apa yang didapat? Tetap mereka merasa kesendirian dalam jiwanya. Semua ini karena bekerja dianggap semata unuk mencari dan mengumpulkan kekayaan materi, tidak untuk membangun pemaknaan dan ketenangan ruhani. Hal ini karena kebanyakan orang berangggapan bahwa ketenangan ruhani hanyalah bisa didapat oleh mereka yang tinggal masjid dan tidak bagi mereka yang hidup di kantoran. Mereka terjebak dalam penjara rasionalitas materialistik akibat hegemoni sistem kehidupan yang kapitalistik melahirkan jiwa yang gersang dalam hingar-bingar materi. Sehingga berbagai solusi aktivitas dilakukan guna memenuhi panggilan jwa yang dahaga akan spritualitas. Karena spiritualitas adalah fitrah manusia hakiki, yang disebut dengan naluri ketuhanan (gharizah tadayyun) sebagai wujud pencarian identitas diri. Kecerdasan spiritual diyakini mampu mengantarkan manusia pada penemuan hakekat diri yang sejati. Lebih dari itu, kecerdasan ini telah terbukti sebagai alat yang dapat mengantarkan pada sukses dalam kehidupan.. Inilah sebuah era dimana spiritual menjadi pusat paradigma manusia walaupun belum bisa dikatakan menang spiritualisme atas materialisme.
Buku Bekerja dengan hati nurani ini dimaksudkan untuk membuka kesadaran para pekerja agar lebih dapat memaknai setiap aktivitasnya baik dalam dunia kerja, keluarga maupun kehidupan yang lebih luas lagi dalam sebuah bingkai spiritual. Bekerja yang dibingkai dengan nilai-nilai spiritual tentu akan berbeda dengan bekerja yang hanya sebatas kepentingan materi duniawi. Bekerja dengan spiritual akan mendorong seorang pekerja untuk bekerja secara ikhlas, sungguh-sungguh dan terbaik karena ingin mendapatkan nilai ibadah dalam setiap aktivitas kerjanya. Sehingga bekerja menjadi lebih terkontrol dan penuh kesadaran ilahiyah. Seorang yang bekerja dengan dasar spiritual akan menampilkan seluruh aktivitas terbaiknya karena merasa bahwa hal ini adalah menjadi tanggung jawab keimanannya agar bernilai ibadah. Sehingga mereka bekerja selalu merasa dilihat, dinilai dan diawasi oleh Allah swt dan tidak membutuhkan penilaian dari manusia, ada atau tidak adanya pimpinan yang mengontrol setiap langkah kerjanya bukanlah sebuah alasan untuk menampilkan sikap yang terbaik dalam bekerja. Kerja spiritual inilah yang diyakini mampu mendorong sekaligus menjadi modal utama bagi kesuksesan pencapaian visi perusahaan.
Hal ini tentu berbeda dengan bekerja yang dimotivasi oleh hanya sebatas kepentingan materi, dimana tentu perilaku kerjanya akan selalu dinilai oleh materi (uang, jabatan dan popularitas). Kerjanya akan cenderung asal-asalan dan kalaupun bersungguh-sungguh dalam bekerja maka motivasinya karena merasa ada ‘sesuatu’ yang ingin di dapatkannya di balik semua itu, yaitu materi. Dan menjadikan kerjanya tidak ikhlas, penuh topeng dan keberpura-puraan. Tergantung pada seberapa besar kemungkinan dia mampu mendapatkan dari apa yang diharapkannya. Sehingga sangat besar pula kemungkinan kesungguh-sungguhan kerjanya adalah disaat dia merasa diawasi oleh pimpinan. Namun saat pimpinan tidak mengawasinya maka semuanya akan kembali normal sebagaimana semula. Karena dia tidak merasa dinilai dan diawasi oleh Allah yang Maha Mengetahui.
Namun seringkali pula kita protes dengan berdalih bahwa tidakkah bekerja itu adalah ibadah juga? Inilah masalahnya, apakah betul kerja yang kita lakukan selama ini sudah bernilai ibadah? Jangan-jangan bahkan kerja kita selama ini malah jauh dari ibadah yang akan menghantarkan kita pada kemurkaan Allah swt? Lalu bagaimana caranya menjadikan kerja kita agar dapat bernilai ibadah? Berbagai pertanyaan inilah yang akan dijawab dalam buku ini.
Bekerja dengan hati nurani adalah kerja yang dilandasi oleh nilai-nilai luhur transendental dengan menghidupkan potensi utama kemanusiaan sehingga bekerja tidak hanya dibatasi oleh kepentingan materi semata yang bersifat sesaat, melainkan nilai-nilai yang dapat mengantarkannya pada tingkat kesadaran tertinggi sehingga mampu mendorong motivasi kerja sebagai upaya membangun sejarah terbaik bagi diri dan kehidupan. Bekerja dengan hati nurani adalah bekerja di atas nilai-nilai spiritual yang dicirikan antara lain yaitu nilai motivasi spiritual, komitmen spiritual, kepedulian spiritual, taqwa, ikhlas, amal prestatif, syukur prestatif, silaturrahim / kerja sama, spiritual service excellent.
Buku Bekerja Dengan Hati Nurani secara sengaja dipersembahkan bagi para pembaca agar bisa lebih memaknai cara kerja kita selama ini sehingga menjadi kerja ibadah. Apalah artinya hidup dengan usia yang cukup panjang jika tidak mampu mengumpulkan bekal yang banyak untuk dapat dibawa pada kehidupan abadi kelak di akhirat. Kerja ibadah inilah yang seharusnya menjadi program kerja kita. Sehingga apapun yang kita hasilkan dari kerja itu nantinya akan bernilai ibadah dan alih-alih untuk menambah waktu ibadah (makhdoh) kita yang selama ini sangat terasa kurang dibandingkan dengan jumlah waktu tidur kita yang sedemikian panjang itu.
Dengan kerja ibadah kita tentunya juga akan mendapatkan hasil rizqi yang halal barokah dan nantinya akan menjadi nafkah bagi anak istri kita, dengannya akan menjadi darah yang akan mengaliri seluruh tubuhnya sehingga tumbuh jiwa-jiwa yang sehat, pikiran-pikiran yang cerdas dan perilaku-perilaku yang diwarnai dengan akhlaq yang agung. Sehingga jadilah anak-anaknya soleh dan solehah serta keluarganya sakinah, mawaddah, warahmah.
Karenanya kunci pembuka utama bagi kerja ibadah ini adalah hati yang hidup, hati yang bersih yaitu hati yang mampu mengundang simpati Allah Azza wa jalla. Karena Allah-lah Sang Pemberi Rizqi, sedang Dia adalah Dzat Yang Maha Suci dan hanya mau menerima yang suci-suci saja (bersih dari noda), sebagaimana Firmannya dalam Al Qur-an surat (26) Asy Syu’ara, ayat 88-89 :”(yaitu) hari (dimana) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih…”
Itulah hati yang telah dipenuhi dengan cahaya (Hati Nurani) yang tunduk pada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang termanifestasikan dalam perilaku keseharian baik di rumah, di lingkungan dan di tempat kerja dengan sikap-sikap positif, sikap yang penuh tanggung jawab dan sikap yang penuh gelora untuk menampilkan yang terbaik dalam kehidupan, serta diri yang tak pernah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan karena sadar bahwa inilah saatnya untuk mengukir sejarah kehidupan dengan tinta emas perilaku dan akhlaq yang agung. Hati yang bersih dan sikap yang terbaik, itulah yang dapat membuka pintu Rahmat Allah dan curahan segala kasih sayangNya.
Saya berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kaum muslimin dan siapa saja yang mendambakan kerja ibadah dan menemukan rahasianya, semoga pula mampu membawa ke arah kesadaran yang tertinggi pada diri-diri kita untuk dapat menampilkan yang terbaik dari sisa usia kita di dunia ini dengan menghidupkan hati dimana saja dan kapanpun saja, selamanya. Amiin ya mujiibas saailiin.

Apabila Anda ingin mendapatkan materi power pointnya,dapat diambil di slideshare dengan nama file : muwafik UB Bekerja dengan hati nurani

Minggu, 14 November 2010

Khutbah Idul Adha 2010 M/1431 H


KHOTBAH IDUL ADHA 1431 H/ 2010 M
IDUL KURBAN DAN KEPEDULIAN SOSIAL DI TENGAH BENCANA
Oleh : Akh. Muwafik Saleh, S.Sos, M.Si
Allahu Akbar, Allahu Akbar …
Kumandang takbir kembali membahana di seluruh pelosok dunia, menyambut hari akbar bagi ummat Islam, sebuah hari yang sarat dengan makna dan nilai. Inilah hari raya kurban atau Idul Adha merupakan hari yang mulia bagi ummat Islam. Untuk semua kenikmatan ini, sangat wajar jika kita mengucapkan syukur sambil memuji Allah SWT, Sang Khaliq Penguasa Alam Semesta, Yang Maha Kuasa dan Perkasa.
Tidak lupa pula, shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada panutan abadi,

Modul Training Pengembangan Potensi Diri

PENGEMBANGAN POTENSI DIRI
Oleh : Akh. Muwafik Saleh, S.Sos, M.Si

Pengembangan Potensi Diri adalah upaya terus menerus (continous improvement) yang dilakukan oleh individu untuk mengoptimalkan dan memaksimalkan kemampuan yang dimilikinya untuk lebih memberikan nilai kemanfaatan baik secara pribadi maupun sosial kehidupan. upaya optimalisasi ini haruslah dilakukan secara sadar yang dimulai dengan pengenalan terhadap potensi yang ada pada dirinya, sikap kebiasaan, persepsi dan keyakinan untuk kemudian dilakukan pengembangan ke arah yang lebih positif dan berdaya guna.
anda mungkin tahu tentang sebuah teori puncak gunung es (Ice berg Theory) yang menjelaskan bahwa 12 persen potensi yang kita munculkan kepermukaan adalah po
tensi sadar yang selama ini kita tampilkan, namun terdapat 88 persen potensi yang belum sempat mungkin kita munculkan yang sesuangguhnya hal itu adalah potensi diri kita yang sejati yang berada di alam bawah sadar kita, disanalah bersemayam keyakinan, nilai-nilai, prinsip-prinsip dsb.


Apabila anda menginginkan mendapatkan modul materi training Pengembangan Potensi Diri, anda dapat men-download di sini : http://www.scribd.com/doc/42445698

Jumat, 05 November 2010

REALITA UMAT ISLAM

Artikel Islami
26 Juni 2008 - 08:39
REALITA UMAT ISLAM SEKARANG  
Oleh : Tim dakwatuna.com
Tidak dapat dipungkiri bahwa era sekarang adalah Era Amerika Serikat (al-Ashr al-Amriki). Seluruh dunia memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap AS, Israel dan sekutunya. AS dan Eropa yang beragama Nashrani dan Israel yang Yahudi sangat kuat mencengkeram dunia Islam. Bahkan sebagiannya dibawah kendali langsung mereka seperti Arab Saudi, Kuwait, Mesir, Irak dan lain-lain. Realitas yang buruk ini telah diprediksikan oleh Rasulullah saw. dalam haditsnya: Dari Said Al-Khudri, dari Nabi saw bersabda:" Kamu pasti akan mengikuti sunah perjalanan orang sebelummu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta hingga walaupun mereka masuk lubang biawak kamu akan mengikutinya". Sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah saw apakah mereka Yahudi dan Nashrani". Rasul saw menjawab, "Siapa lagi!" (H.R. Bukhari dan Muslim)
Beginilah nasib dunia Islam di akhir jaman yang diprediksikan Rasulullah saw. Mereka akan mengikuti apa saja yang datang dari Yahudi dan Nashrani, kecuali sedikit diantara mereka yang sadar. Dan prediksi tersebut sekarang benar-benar sedang menimpa sebagian besar umat Islam dan dunia Islam.
Dari segi kehidupan sosial, sebagian besar umat Islam hampir sama dengan mereka. Hiburan yang disukai, mode pakaian yang dipakai, makanan yang dinikmati, film-film yang ditonton, bebasnya hubungan lawan jenis dan lain-lain. Pola hidup sosial Yahudi dan Nashrani melanda kehidupan umat Islam dengan dipandu media massa khususnya televisi.
Dalam kehidupan ekonomi, sistem bunga atau riba mendominasi persendian ekonomi dunia dimana dunia Islam secara terpaksa atau sukarela harus mengikutinya. Riba' yang sangat zhalim dan merusak telah begitu kuat mewarnai ekonomi dunia, termasuk dunia Islam. Lembaga-lembaga ekonomi dunia seperti IMF, Bank Dunia, WTO dll mendikte semua laju perekonomian di dunia Islam. Akibatnya krisis ekonomi dan keuangan disebabkan hutang dan korupsi menimpa sebagian besar dunia Islam.
Begitu juga pengekoran umat Islam terhadap Yahudi dan Nashrani terjadi dalam kehidupan politik. Politik dibangun atas dasar nilai-nilai sekuler, mencampakkan agama dan moral dalam dunia politik, bahkan siapa yang membawa agama dalam politik dianggap mempolitisasi agama. Begitu buruknya kehidupan politik umat Islam, sampai departemen yang mestinya mencerminkan nilai-nilai Islam, yaitu departemen agama, menjadi departemen yang paling buruk dan sarang korupsi.
WAHN